BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1

| Rabu, 27 Juli 2016


BUTTERFLY FANFICTIONS - KOREAN FANFICTIONS
BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1

Tittle                  : Better Without You
Author                : Kim Yeonhwa
Cast                   :
·       Kim Taehyung as Taehyung (BTS)
·       Jeon Jeong Guk as  Jungkook (BTS)
·       And Other
Genre                 : Friendship, brothership, family, school life, sad, hurt, tragedy, pshyco, etc.
Lenght                : Chaptered
Rate                   : T
Disclaimer           : It’s okay if you want to plagiarize my fanfiction. Tapi dosa tanggung sendiri ya?
Warning              : Jangan baca fanfiction ini sambil makan okay? Bahasa sulit dimengerti, KATA KATA KASAR. Kalo ada typo tolong dikantongin trus kasih saya. Don’t like don’t read, please. No bash. [Bikin ff sendiri sana kalo bisanya cuma nge-bash!]
Recommendation songs  : Baekhyun X K.Will – The Day, BTS – Hold Me Tight
Summary           : Setiap aku akan terlelap, aku selalu berdoa pada Tuhan. Berharap saat aku membuka mataku esok semuanya menjadi baik – baik saja dan akan terjadi hal yang baik. Namun, saat esok hari aku membuka mataku, semua tetap sama bahkan lebih buruk karenamu, bodoh.




------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

The story begin....
“KAU INI BUTA ATAU BAGAIMANA?. JELAS-JELAS PELANGGAN ITU ADA DI DEPANMU KENAPA KAU TAK BISA MELIHATNYA?.” Laki-laki yang terlihat lebih tua menunjuk-nunjuk yang lebih muda dengan tidak sopannya. Membuat pemuda tak bersalah di depannya itu menelan ludah berkali-kali.
“Maaf tuan. Saat itu pembelinya sangat banyak jadi saya tidak bisa melihatnya”. Yang lebih muda mencoba mengelak sambil menunduk. Namun malah mendapat tamparan keras di pipi kirinya yang putih bersih. Ia mencoba sabar, ia mencoba mendongakkan wajahnya menatap laki-laki di depannya yang sedang berkacak pinggang sambil menatapnya marah. Andai di dunia ini tak ada yang namanya hukum, mungkin lelaki muda tadi sudah melayangkan puluhan pukulan ke wajah bengis ‘bos besarnya’ itu.
“Tapi tuan, pencuri itu hanya mengambil sebungkus ramyun siap saji. Anda bisa memotong gaji saya atau saya bisa menggantinya dengan uang seharga ramyun itu tuan.” Yang lebih muda mencoba meyakinkan sambil mengelap darah di sudut bibirnya. Nyeri sekaligus bau anyir darah sama-sama membuat emosinya tersulut kalau saja ia tak ingat kalau dirinya hanyalah ‘bawahan’ yang setiap hari hanya dibentak dan dihina seenak jidat ‘bos besar’nya.
HALAH! AKU TAK MAU TAHU!. SEBAGAI HUKUMANNYA KAU HARUS LEMBUR SAMPAI JAM EMPAT PAGI ESOK!.” Laki-laki setengah baya itu menghembuskan nafasnya kasar setelah memarahi pegawainya yang lalai tadi, berharap semua bebannya hilang bersamaan dengan menguapnya karbondioksida sisa hasil pernafasannya.
“Bukannya itu jadwal tunggu Woohyun hyung tuan.” Pemuda bersurai abu-abu itu mengamit kedua tangannya dan meremasnya keras, sebagai bentuk amarahnya yang tak tersampaikan.
“SUDAHLAH. KAU TIDAK BISA MENGELAK CEPAT KERJA SANA!.” Laki-laki bertubuh gempal itu membalikkan badan sambil mengumpat. Atau lebih menjurus pada menggumamkan kata-kata kasar karena nyatanya pemuda itu tidak bisa dengan jelas mendengar umpatan yang keluar dari mulut si bos.
“Ba-baik tuan.” Yang lebih tua lalu meninggalkan yang lebih muda dengan acuh. Yang lebih muda lalu segera melanjutkan pekerjaannya. Langit malam ini seakan ikut merasakan kesedihannya karena mendung hadir di tengah musim panas seperti ini.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Kini waktu telah menunjukkan tengah malam, namun laki-laki muda bernama Kim Taehyung itu masih saja bergelut dengan pekerjaanya. Seharusnya ia sudah pulang tiga jam lalu, jam sembilan lalu tepatnya. Namun apa daya tuan Shin Dong Hee yang menyebalkan itu menghukumnya sampai jam empat pagi nanti.
KRING
Bel yang tergantung di atas pintu minimarket berbunyi pertanda seseorang akan menghampirinya dan memberikan sejumlah uang padanya. Taehyung segera kembali ke kasir dan bersiap menyapa di sana.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?.” Tanya Taehyung ramah, begitu kontras dengan suasana hatinya yang kalut bagaikan sebuah hujan badai berkecamuk di hatinya.
Annyeong haseyo. Dimana tempat soda dan makanan ringannya, Taehyung-ssi?.” Tanya pemuda berambut hitam sambil mencoba membaca tag name Taehyung.
“Oh, di sana di lorong nomor empat dekat rak berwarna merah itu, tuan.” Jelas Taehyung sopan dan jelas.
N-ne terima kasih.” Pemuda itu tampak gugup saat tatapan mereka bertemu. Sejurus kemudian, pemuda itu berjalan menuju tempat di mana tadi Taehyung mengatakannya. Taehyung hanya bisa mengeriyitkan dahinya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ada yang aneh pada pemuda itu, menurutnya.
Beberapa menit kemudian pemuda bersurai gelap itu kembali dengan sekaleng soda rasa original dan tiga bungkus keripik kentang dengan rasa berbeda. Dengan cekatan Taehyung menghitung harganya dan mengemasnya dalam plastik berwarna putih.
“Lima ribu won tuan.” Taehyung menyerahkan belanjaan pemuda yang kelihatannya lebih muda darinya itu. Pemuda itu menerimanya lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet berwarna hitam. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyerahkannya pada Taehyung.
Ne, kamsahamnida.” Taehyung menerimanya lalu pemuda itu tersenyum padanya dan masih membeku di tempat.
Pemuda itu memperhatikan wajah Taehyung yang begitu tampan saat ini. Rambut abu-abu tua yang terkena sinar lampu, beberapa surainya terlihat lepek karena keringat, hidung bangirnya, bibirnya yang penuh, matanya yang tajam dan dipoles eyeliner, kulitnya yang putih, telinga yang ditindik dan kaos putih tulangnya yang terbalut jaket coklat yang tak di kancingkan hingga terlihat basah karena suhu udara yang cukup ekstrim malam ini. Oh! lihatlah bahkan kini pemuda itu masih menatap Taehyung tanpa berkedip sambil sedikit membuka mulutnya tanda kagum.
Ehem.” Taehyung berdehem mencoba mencoba menyadarkan pemuda di depannya dari lamunannya. Dan pemuda itu tersentak lalu mencoba mengalihkan pandangannya.
N-ne, sama-sama.” Pemuda itu lalu pergi meninggalkan Taehyung yang masih merasa aneh dengan tatapan pemuda tadi yang bisa dikatakan berbeda karena sekarang Taehyung merasakan bulu kuduknya sudah berdiri.
Aish, mollayo.” Taehyung akhirnya menyerah dengan perdebatan batinnya mengenai pemuda asing tadi. Ia lalu segera beranjak dari meja kasir dan berjalan menuju rak ramyun yang belum sempat ia bereskan tadi. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah foto yang ada di lantai.
Ia memungutnya, dan sedikit membersihkannya dari debu. Matanya kembali memanas dan ingatan masa lalunya kembali terproyeksi di otaknya saat melihat foto itu. Pemuda tadi tampak tersenyum bahagia sambil merangkul seorang anak laki-laki yang  terlihat seperti  adik pemuda itu karena wajah mereka yang mirip. Mereka berdiri di belakang sebuah bangku yang diduduki sepasang suami istri yang Taehyung yakini mereka adalah orang tuanya.
“Ayah, ibu, Taehyung, Taehun. Ayo berfoto. Satu dua tiga!.”
KIMCHI!.” /  CHAP CHAI!.”
YAK! Kim Taehyung. Bukan chap chai tapi kimchi!.”
“Aku lebih suka chap chai dari pada kimchi, Taeri noona.”
“Terserahmu sajalah!.”
Hei! Hei! Sudahlah! Sekarang ayo kita makan bersama. Ibu sudah membuatkan banyak makanan untuk piknik kita kali ini. Ayo makan!.”
“Tentu saja ibu. Taehun mau disuapi ibu!.”
“Hei! Uri Taehun senang sekali merajuk, eoh?. Membuat ayah gemas saja.”
“Taehyung juga mau disuapi, ayah.”
“Taeri juga!.”
Taehyung menelan ludahnya susah payah. Memori yang terproyeksi dengan sangat jelas itu menghujam telak jantungnya dan meremas hatinya hingga kini luka lama itu kembali menganga, hanya kerena sebuah ingatan sederhana bernama……
KELUARGA
Sebuah kata yang membuat Taehyung terseok-seok apabila mengingatnya. Membuatnya menjadi seorang pecundang saat mengingatnya. Membuatnya kembali menjadi sosok yang lemah…
KIM TAEHYUNG YANG LEMAH KARENA KELUARGA
Ada rasa bahagia sekaligus sedih bercampur saat melihat foto itu. Bahagia karena masih ada orang yang lebih beruntung darinya dan sedih karena ingatan menyedihkan dan sialan menurut Taehyung itu kembali berputar ulang di pikirannya.
KRING
Suara itu menginterupsi acara –ingat-mengingat- Taehyung. Ia lalu segera menyapa orang itu. Kembali meneguhkan hatinya dari fantasi dan ingatan liar yang sukses membuatnya bad mood seketika.
Annyeong hase- Eh ! Woohyun hyung, kenapa bisa di sini?.” Taehyung tampak senang ketika melihat orang yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu datang sambil tersenyum. Dengan wajah berbinar ia menghampiri sosok yang dipanggilnya Woohyun hyung itu. “Bagaimana kalau tuan Shin tahu?.” Pertanyaan berubi – tubi dari Taehyung hanya dijawab dengan senyuman oleh Woohyun.
“Tenang saja. Masalah itu aku sudah mengurusnya dengan tuan Shin. Kau bisa pulang sekarang. Lagi pula kau nanti pagi harus sekolah, kan?.” Yang lebih muda tampak senang saat yang lebih tua selesai menjelaskan. Ada kelegaan yang menyusup di hati Taehyung. Ada kehangatan di sana, membuat segala masalah yang mendera hatinya perlahan menghilang.
Wah, terima kasih hyung.” Taehyung tersenyum bahagia menampakkan rectangle smilenya yang menawan. Woohyun hanya bisa maklum jika juniornya itu sangat senang saat ini. Karena memang bukan perkara mudah untuk melepaskan hukuman yang telah diberikan tuang Shin Dong yang sangat menyebalkan itu pada para pegawai lalai di minimarketnya.
Eh, itu apa Tae?.” Woohyun tampak penasaran dengan apa yang dipegang Taehyung. Sedangkan Taehyung menatap kembali kertas cetak bertinta di tangannya.
“Oh ini foto pembeli yang terjatuh tadi. Aku akan mengembalikannya hyung. Tenang saja. Ya sudah ya hyung aku pulang dulu.” Taehyung lalu segera mengambil tasnya yang ada di ruang karyawan dan tak sampai hitungan menit ia kembali menghampiri Woohyun yang masih ada di depan meja kasir.
“Aku pulang ya hyung.” Taehyung berlari pulang sambil terus tersenyum. Membuat Woohyun sedikit tertegun dengan perubahan sifat Taehyung yang amat drastis.
Teruslah tersenyum seperti itu, adikku. Agar kau bisa mengatasi rasa sakit itu dengan senyuman tulusmu.
Ne, hati-hati.” Salahkan Taehyung yang secepat kilat sampai-sampai Woohyun baru menjawab salamnya.
Mungkin beberapa orang mempertanyakan latar belakang Woohyun yang ditutup-tutupi. Karena jawabannya adalah sebenarnya Woohyun terlahir di keluarga yang bisa dibilang berada, namun ia ingin mandiri untuk membiayai kuliahnya. Dan ia meninggalkan keluarganya di Jepang hanya untuk mencari pengalaman di negri yang tak jauh-jauh juga.
Ia hanya ingin mencari pengalaman hidup di Korea.
Ya. Pengalaman hidup.
Pengalaman hidup yang ia dapat saat ia bertemu dengan seseorang yang tersenyum dalam rasa sakitnya……
…..
RASA SAKIT YANG MENDERA…
KIM TAEHYUNG
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Taehyung keluar dari rumahnya yang sederhana itu dengan tergesa-gesa lalu berlari menuju halte bus terdekat. Pasalnya kini waktu telah menunjukkan pukul 07.20, berarti sepuluh menit lagi kelas dimulai. Ia akan kena murka guru ‘tersayang’nya itu kalau ketahuan terlambat datang ke kelasnya yang bagai ‘surga’ itu.
Salahkan saja jam wakernya yang sudah rusak sejak kemarin itu atau salahkan ponselnya yang belum sempat ia isi dayanya. Jangan lupa salahkan tuan Shin- ah tidak itu semua memang salahnya. Salahkan saja dirinya yang memang sebatang kara kalau saja Cho seongsae menghukumnya karena terlambat nanti. Seandainya ia masih bersama keluarganya, pasti ibunya akan membangunkannya agar tak terlambat ke sekolah setelah itu ia akan disambut ayah, ibu, kakak perempuan dan adik laki-lakinya di meja makan dan-
“HEI! nak! Kau mau naik tidak ?.” Teriakkan sopir bus itu menghentikan Taehyung dengan acara -mari berandai -andai- nya.
Ah ne.” Taehyung lalu naik bus menuju sekolahnya. Tak sampai lima menit, bus berwarna putih itu sudah tiba di sekolahnya. Sedikit tergesa saat ia keluar dari kendaraan umum itu hingga ia menabrak seorang wanita paruh baya yang ia hafal bahwa itu adalah….
GURU PALING ‘BERHATI MULIA’ DI SEKOLAH
Memangnya siapa lagi kalau bukan….
HWANG SE HWA!
GURU BP YANG AKAN ‘MEMBELAI’ MURID-MURID NAKAL DI SEKOLAHNYA
Mianhamnida, seongsaenim.” Taehyung membungkuk berkali-kali untuk meluluhkan hati ‘ibu’ bagi anak-anak nakal di sekolahnya itu.
“Oh, tak apa-apa, Taehyung-ah. Aku yang harusnya minta maaf karena berdiri di tengah jalan. Maaf ya.” Guru dengan rambut digelung itu menyentuh pundak Taehyung lalu tersenyum ramah.
Perlu diabadikan, hal paling langka dalam sejarah- Batin Taehyung.
Eum, bukankah sebentar lagi bel masuk?. Cepatlah ke kelas, Taehyung-ah. Kau tak mau kena marah Cho seongsae, kan?.” Taehyung menelan ludahnya yang sekeras karang.
Bagaimana ia tahu kalau jam pertama adalah jadwal Cho seongsae?
Kenapa ia hafal sekali?
Bahkan guru ini lebih menyeramkan saat bersifat ramah.
Taehyung bergidik ngeri. Lalu berpamitan, “Saya permisi dulu, Hwang seongsae.” Dan Taehyung akhirnya melesat menuju kelasnya setelah melihat wanita berkulit putih itu mengangguk sambil tersenyum.
Kenapa kalian berdua sekarang tidak bisa akur setelah kejadian itu, Taehyung-ah?
Kenapa kau harus menganggapku sebagai orang asing, nak?
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

BRAK
Taehyung membuka pintu dengan keras sehingga membuat beberapa siswa menatapnya. Untung saja seongsaenim belum datang. Ia menghela nafas lega lalu duduk ke bangkunya yang ada di pojok dekat jendela. Tak lama kemudian Cho Kyuhyun seongsaenim tampak masuk ke kelas diikuti seorang siswa tampan berambut hitam.
“Selamat pagi semuanya. Hari ini kelas ini kedatangan seorang siswa baru dari Seoul International Junior High School. Ia siswa akselerasi, umurnya dua tahun lebih muda dari kalian. Jadi mohon bantuan dan bimbingannya. Nah, sekarang tolong perkenalkan dirimu.” Ocehan panjang lebar guru bermarga Cho itu tak digubris Taehyung karena kini ia tengah menatap luar jendela sambil memutar kembali kejadian-kejadian lampau yang membuatnya kini tak dapat mempercayai satu orang pun di muka bumi ini.
Hah...” Ia menghela nafas panjang sambil menegakkan duduknya.
“Permisi. Aku mau duduk di sini. Tolong singkirkan tasmu, Taehyung-ssi.” Pinta seseorang yang membuyarkan lamunan Taehyung seketika. Pemuda itu sangat familiar di pikiran Taehyung. Ia adalah…
Eh kau?!.”
“Cho seongsae tadi menyuruhku duduk di sini karena hanya di sini yang kosong, Taehyung-ssi.” Jelasnya sambil tersenyum ramah pada Taehyung. Dan tanpa babibu Taehyung lalu segera menyingkirkan tasnya yang sebelumnya ia taruh di kursi sampingnya menjadi di laci.
“Hai. Aku Jeon Jeong Guk, tapi kau bisa memanggilku Jungkook. Aku tinggal di dekat sungai Han, kau bisa mampir jika lewat sana, Taehyung-ssi.” Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya pada Taehyung sambil tersenyum dan syukurlah Taehyung membalasnya walau ia tak ikut tersenyum. “Dan yang kemarin itu juga aku.” Lanjutnya.
“Tunggu sebentar.” Taehyung lalu mengeluarkan sebuah foto dari saku jas sekolahnya. “Apa ini milikmu?.” Tanya Taehyung sambil menyerahkan foto itu pada Jungkook, pemuda asing yang tanpa sengaja merobek luka yang telah ia coba rekatkan kembali setelah bertahun-tahun hanya dengan sebuah foto yang tak sengaja pemuda bersurai hitam itu jatuhkan kemarin.
WAH, KAMSAHAMNIDA, TAEHYUNG-SSI!.” Jungkook berucap dengan cukup heboh membuat keributan tersendiri dalam kelas itu. Semua pasang mata menatap mereka dengan tatapan benci, terutama untuk Taehyung yang notabene tak melakukan apa-apa.
“KIM TAEHYUNG! JEON JEONG GUK! KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA! KALIAN MENGGANGGU PELAJARAN!” Murka Cho Kyuhyun seongsae. Taehyung lalu segera keluar kelas dengan langkah santainya diikuti Jungkook dibelakangnya yang menunduk takut.
“Lalu kalian harus berdiri di depan tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai!.”
SHIT!
Lanjut Cho seongsae sebelum Taehyung memutar kenop pintu dengan malas. Sedangkan Jungkook segera menatap gurunya itu, mencoba membujuknya agar hari pertamanya di sekolah ini tak berbau hukuman, namun sang guru malah acuh dan segera melanjutkan pelajaran.
“Kau mau di sini sampai kapan?” Tanya Taehyung ketus. Jungkook lalu segera mengekori Taehyung yang tampak kesal pada gurunya.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

30 menit kemudian
Taehyung tampak mulai kelelahan, karena kini keringatnya mulai bercucuran di sekitar pelipisnya, nafasnya sedikit berat, dan jangan lupakan jika kini kepalanya terasa seperti di tindih dengan batu besar yang tak kasat mata. Bertolak belakang dengan Jungkook, bocah itu kini malah tersenyum-senyum sendiri sambil menatap foto keluarganya. Dan ia mulai berceloteh saat merasa Taehyung menatapnya.
“Kau tahu. Aku sangat rindu keluargaku di Busan. Sudah 3 tahun sejak aku kelas VII Junior High School aku tak bertemu dengan mereka. Adikku sekarang sudah kelas VII Junior High School, dia satu tahun lebih muda dariku. Dulu saat aku masih di Busan, setiap sore pasti aku selalu pergi bermain ke dermaga bersama adikku. Sepulang bermain, biasanya ibu akan memasakkan makanan kesukaan kami dan malamnya ayah akan mengajak kami ke taman bermain. Ayahku bekerja sebagai pelatih baseball profesional dan ibuku mempunyai kafe keluarga yang cukup besar di sana. Saat anak asuhan ayah menang dalam sebuah pertandingan pasti mereka akan merayakannya di kafe ibuku. Kadang-kadang saat akhir pekan ayahku juga mengajak kami berjalan-jalan mengintari Busan, lalu pergi ke rumah nenek setelah itu kami akan makan malam bersama di kafe ibu.” Jungkook selesai berucap. Dan seketika membuat hati Taehyung mencelos. Kenapa Jungkook harus menceritakan hal yang menurutnya menyakitkan itu padanya?
“Kenapa?.” Taehyung bertanya tanpa menoleh sedikit pun pada Jungkook yang ada di kirinya. Dadanya serasa dihimpit sekat tak terlihat yang membuatnya kesakitan. Dengan lemah Taehyung menyentuh dada kirinya, yang terasa nyeri bukan main.
Ne?.”
“Kenapa kau sangat percaya padaku sampai menceritakan semua tentangmu padahal kau baru bertemu denganku tadi malam?.” Tanya Taehyung sekali lagi sambil menatap mata Jungkook tajam. Jungkook menelan salivanya kasar lalu tersenyum kikuk dan mengalihkan pandangannya. Ia mengalihkan pandangannya dari pandangan Taehyung, yang seakan mengulitinya hidup-hidup dengan pandangan itu. Pandangan yang mengitimidasi, tampak mencekam, dan membuat siapa pun yang menatapnya akan gemetar tanpa pikir panjang.
“Karena aku pikir kau orang yang tepat, Taehyung-ssi.” Itu jawaban yang keluar begitu saja dari mulut Jungkook. Karena ia juga tak tahu mengapa ia menceritakan semuanya kepada seseorang asing yang sama sekali belum ia kenal. Seseorang yang telah menyedotnya ke dalam lubang hitam dari tatapan matanya yang mematikan, membuat Jungkook tak dapat memahami apa yang ada di pikiran orang yang ada di sampingnya itu, hingga tanpa sadar ia telah mengatakan semua tentangnya pada Taehyung,
ORANG YANG BAHKAN BELUM SAMPAI DUA PULUH EMPAT JAM IA KENAL
“Kalau begitu bolehkah aku mempercayaimu?.” Yang lebih tua mencoba untuk menguatkan hatinya sambil menahan air matanya. Menguatkan hatinya yang sudah tercabik-cabik bertahun-tahun yang lalu. Dan kini berakhir dengan hatinya yang telah rusak, rapuh, koyak bahkan membusuk karena ingatan sialan yang menjalar di pikirannya setiap harinya.
“Kenapa?.” Tanpa sadar Jungkook bertanya sama seperti Taehyung tadi. Karena entah mengapa Taehyung seperti menghipnotisnya dengan tatapan sendu tapi mencekam dari kedua bola mata Taehyung.
“Karena aku pikir kau orang yang tepat.” Taehyung pun menjawab sama persis dengan jawaban Jungkook padanya. “Dan karena kau satu-satunya orang yang mendekatiku disaat orang lain berlomba-lomba menjauhiku.” Taehyung jujur, karena kenyataanya memang seperti itu.
“Tentu saja. Kau bisa mempercayaiku, Taehyung-ssi.” Taehyung menghela nafas panjang lalu mulai bercerita. Dan Jungkook mendengarkannya dengan seksama.
“Ayahku adalah salah satu pengusaha terkaya di Seoul. Ibuku memiliki restaurant Eropa yang sangat terkenal di Seoul. Aku mempunyai seorang kakak perempuan dan adik laki-laki. Saat aku masih berada di kelas lima Elementary School, kami berlima pergi ke Eropa untuk mempelajari makanan Eropa, terutama ibuku. Semenjak saat itulah aku sangat suka makanan Eropa.”
Jungkook memutar bola matanya malas. Jadi, Taehyung hanya ingin memamerkan kekayaanya padanya yang hanya seorang anak pelatih baseball dengan klub kecil di Busan?. Namun, saat Taehyung meneruskan ucapannya hatinya terasa terkoyak. Ingin rasanya ia menangis, tapi ia harus kuat. Karena Taehyung pun sama sekali tak menangis saat menceritakan masa lalunya. Masa lalu yang Jungkook yakini bahwa Taehyung tak akan pernah melupakannya hingga akhir hayatnya.
“Tapi sekarang aku sangat membenci makanan Eropa. Benar- benar membencinya. Ingin tahu kenapa?. Saat itu hari Minggu,  beberapa minggu sebelum natal tepatnya. Aku masih di kelas lima Elementary School tingkat akhir, setelah kami berlibur ke Eropa. Aku sedang belajar memasak bersama ibu dan kedua saudaraku. Hari itu ayahku masih bekerja, lembur katanya. Kami berempat sangat bahagia saat itu, sampai tuan Kang, orang kepercayaan ayahku datang. Ia bilang kalau polisi menangkap ayahku atas dugaan korupsi dan penyuapan perusahaan asing.”  Jungkook mulai gemetaran saat mendengar sepenggal cerita Taehyung, hingga pemuda itu melanjutkan cerita menyakitkannya.
“Saat ayah ditangkap, tuan Kang bilang kalau ayahku sedang melakukan sex bersama selingkuhannya yang bernama Hyorin itu di sebuah hotel. Ibuku murka, ia lalu segera pergi ke kantor polisi dan menyumpah serapahi gadis jalang itu. Setelah satu minggu penyelidikkan, pengadilan menyatakan bahwa ayahku bersalah ia diberi hukuman penjara seumur hidup, selain itu semua kekayaanya juga ditarik tak terkecuali dengan rumah yang kami tinggali. Setelah itu ibuku pergi dari rumah bersama adikku.
Tiga hari kemudian aku dan kakakku mendengar kalau ibuku membunuh adikku lalu memutilasinya dan membuangnya ke sungai Han dalam keadaan semua anggota tubuhnya terpotong-potong seukuran dadu dan ditemukan dalam sebuah kantong plastik yang berukuran cukup besar. Malamnya saat ibuku menjadi buronan polisi, ia melarikan diri ke sebuah kebun binatang dan menceburkan dirinya ke sebuah kolam penangkaran buaya. Kau tahu kan bagaimana wujud manusia yang dimakan beratus-ratus ekor buaya yang puasa?. Keesokan harinya saat polisi menemukan sisa-sisa tulang ibuku, mereka menemukan sebuah surat yang terjatuh di penangkaran buaya yang berisi bahwa ibuku sangat sadar saat melakukan mutilasi pada adikku bahkan ia memakan beberapa potong anggota tubuh adikku, selain itu ibuku juga meminta pada polisi untuk tidak memberitakan semua tentang keluarga kami.” Hampir saja Jungkook memuntahkan semua sarapannya kalau saja Taehyung tak menatapnya dengan tatapan mencekam yang membuat Jungkook lupa akan rasa mualnya.
“Sehari setelahnya, kakakku pergi meninggalkanku juga. Dan seminggu kemudian mayat kakakku ditemukan di sebuah kamar di bar. Setelah di visum, polisi bilang kalau kakakku telah melakukan sex dengan lebih dari seratus orang dalam kurun waktu seminggu hingga membuat rahimnya mengalami infeksi dan akhirnya ia meninggal setelah melakukan sex dan kau tahu? Ia melakukan sex terakhirnya bersama Tuan Kang. Tuan Kang yang kami percayai, ternyata sama brengseknya dengan ayahku. Dan setelah itu Tuan Kang dihukum mati karena ia juga sengaja memberi minum kakakku dengan sebuah cairan yang membuat infeksinya kian menyebar.
Setelah itu aku mendengar ayahku sakit parah di penjara namun pihak polisi tak mengetahuinya, hingga ayah memutus urat nadinya sendiri dengan menusukkan garpu ke pergelangan tangannya. Kejadian tersebut tak diketahui siapa pun hingga tiga hari berikutnya mayat ayahku ditemukan sudah membusuk di penjara. Dan hari itu juga, pukul 12 siang tepat satu hari sebelum hari natal, polisi menunjukkan mayat keempatnya padaku. Adikku yang sudah terpotong-potong, ibuku yang tinggal tulang belulang, kakakku yang di daerah vitalnya membusuk, dan ayahku yang seluruh tubuhnya membusuk dan pergelangan tanganya yang digerogoti belatung. Aku berharap saat itu juga aku terkena serangan jantung dan ikut mati menyusul mereka. Tapi Tuhan berkata lain hingga sampai sekarang aku masih hidup.” Taehyung menghela nafas berat sambil memilin ujung kemejanya.
“Setelah melihat kondisi keempatnya aku segera berlari ke rumah nenek. Tapi sampai di rumah nenek, nenek mengusirku dan berkata bahwa aku adalah anak tak berguna, pembawa sial, dan sebagainya. Aku lalu kembali ke kantor polisi dan meminta pada pihak polisi untuk merahasiakan semua tentang keluargaku kepada media. Aku sempat bersujud di depan para polisi hanya untuk meminta itu, dan akhirnya mereka semua setuju. Maka dari itu tak ada seorang pun yang tahu kecuali aku, para polisi yang menyelidiki kasus keluargaku, Woohyun hyung dan kau. Dan setelah keluar dari kantor polisi, aku tak tahu harus kemana lagi, aku duduk di bawah pohon natal dan melihat lalu lalang orang yang sedang berbahagia merayakan natal bersama keluarga mereka, hingga aku tertidur di sana dalam keadaan hujan salju.
Keesokan harinya, aku terbangun. Tubuhku serasa beku. Aku tak bisa bicara maupun berdiri. Hanya bisa menangis dalam diam. Hingga seseorang menemukanku, ia membawaku pulang. Ia adalah Nam Woohyun, orang yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Keluarganya tinggal di Jepang. Ia membantuku mengurus semuanya. Ia mencarikanku tempat tinggal, beasiswa dan pekerjaan. Aku bekerja di minimarket itu sudah sekitar lima tahun, untuk menghidupi diriku sendiri dan untuk sekolah. Aku sangat berterima kasih pada Woohyun hyung. Ia sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Setelah kejadian itu aku berjanji tak akan pernah mempercayai siapa pun, kecuali Woohyun hyung. Aku trauma, bahkan sangat takut untuk mempercayai seseorang. Cukup kejadian itu menjadi pelajaran padaku untuk tidak mempercayai siapa pun, karena setiap orang yang aku percayai pasti akan pergi meninggalkanku. Adik, ibu, kakak, ayah, nenek, tuan Kang, cukup mereka saja yang meninggalkanku dan mengkhianatiku. Aku tak ingin Woohyun hyung bahkan kau, kalian yang aku percayai meninggalkanku.
Dan jangan lupakan bahwa sekarang aku-.”
“Kau apa?.” Jungkook mencoba bertanya dalam tangisnya dengan suara serak. Ya, pertahanannya runtuh mendengar semua cerita Taehyung. Berbalik 180 derajat dengan Taehyung yang tampak tenang.
“Aku-.”
TES
SHIT!
Darah segar menetes dari hidung bangir Taehyung.
BRUK
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

“Mengidap kanker darah stadium akhir.”
DEG
Kalimat yang pendek namun benar-benar bisa menohok hati Jungkook. Dokter itu lalu keluar dari kamar rawat Taehyung. Ya, kini mereka berdua kini berada di rumah sakit. Jungkook membawanya ke sini setelah Taehyung pingsan dan mimisan. Sebenarnya pihak sekolah mengajukan diri untuk mengurus Taehyung, namun Jungkook menolaknya. Dengan alasan tak logis, bahwa ia akan bertanggung jawab karena ini ulahnya karena ia yang mengacau di kelas dan Taehyung terkena imbasnya.
Jungkook kini duduk di kursi di salah satu sisi ranjang Taehyung. Ia menggenggam tangan Taehyung dan menangis dalam diam. Menangisi penderitaan orang lain yang kian mengusik hati Jungkook dan seakan penderitaan Taehyung ikut membuat sisi hatinya terkoyak dan meneteskan darah. Hingga suara seseorang menginterupsinya.
“Apa yang kau lakukan, bocah?. Apa kau menangis?.” Itu suara Taehyung. Suara husky baritone yang Jungkook mulai hafal walau kini suara itu sangat terdengar serak dan lemah di telinga Jungkook. Jungkook segera membantu Taehyung untuk duduk. Dan dengan tatapan sayunya, Taehyung menarik segaris senyum yang Jungkook tak mengerti artinya.
“Aku akan mengatakan sesuatu padamu. Tapi jika kau mendengarnya kau tak boleh marah, okay?.” Jungkook menyeka air matanya lalu menghela nafasnya, mencoba menguatkan hatinya untuk Taehyung. Karena Taehyung begitu kuat, walau cobaan selalu menghampirinya dan menawarinya dengan sebuah kata manis namun sarat dengan kehancuran…
 MENYERAH
Kata yang kian singkat tapi penuh akan tangis di dalamnya. Tapi Taehyung tak menyerah hingga kini, karena Jungkook tahu masih ada harapan besar di balik sikap Taehyung.
“Kau mengidap kanker darah stadium akhir.” Dan air mata Jungkook kembali menetes, namun Taehyung malah tersenyum dan memeluk Jungkook. Pelukan yang sarat akan makna dan kasih sayang.
“Aku sudah tahu, bodoh.” Kalimat yang sungguh sederhana namun membuat hati Jungkook kian mencelos. Ia membalas pelukan Taehyung dan menangis sejadi-jadinya di sana. Sedangkan Taehyung lagi-lagi hanya menarik seulas senyum, senyum yang hanya Taehyung sendiri yang tahu artinya.
“Maka dari itu jangan khianati dan tinggalkan aku, bocah. Berhentilah menangis.” Yang lebih tua mencoba menepuk-nepuk punggung yang lebih muda agar berhenti menangis. Yang lebih muda mendongak lalu mengangguk.
Ne, aku takkan menghianati bahkan meninggalkanmu, Tae.” Jungkook menghapus air matanya, karena ia tak ingin terlihat cengeng di mata Taehyung.
“TAE? APA ITU? YAK! KAU HARUSNYA MEMANGGILKU HYUNG. DASAR!” Taehyung mencela Jungkook yang memanggilnya seenaknya sambil melepaskan pelukannya pada pemuda bersurai hitam itu.
KLEK
Ehem! Wah, sepertinya uri Tae sudah punya teman baru.” Seseorang yang baru saja membuka pintu putih rumah sakit itu tersenyum hangat. Ia adalah Woohyun, ‘kakak’ Taehyung yang sangat berjasa bagi Taehyung. Woohyun tanpa sadar menghentikan pertengkaran kecil Jungkook dan Taehyung. Ia lalu meletakkan sekeranjang kecil buah-buahan di meja nakas samping ranjang Taehyung.
Hyung!.” Taehyung tampak senang melihat Woohyun datang. Woohyun lalu memilih duduk di sofa yang disediakan pihak rumah sakit. Jungkook menatap Woohyun lalu mendekatinya sambil mencoba memberikan senyum hangat untuk Woohyun.
Annyeonghaseyo Jeon Jeong Guk imnida. Tapi kau bisa memanggilku Jungkook. Tae hyung tadi menceritakan tentangmu, Woohyun hyung. Senang berkenalan denganmu.” Jungkook membungkuk hormat pada Woohyun lalu bersalaman dengannya.
“Aku juga senang bertemu denganmu Jungkook.” Woohyun menyambut Jungkook dengan ramah dan hangat. Woohyun lau duduk di sisi ranjang Taehyung yang berlainan sisi dengan tempat duduk Jungkook sebelumnya. Jungkook mengikuti Woohyun, lalu duduk di tempat duduknya sebelumnya.
“Jungkook-ssi.” Panggil Woohyun. Jungkook dan Taehyung menoleh ke arahnya.
Ne, hyung.”
“Sudah berapa lama kau mengenal Taehyung?.” Wajah Woohyun nampak serius namun senyum menawan tak luput di wajahnya. Jungkook pun menceritakan kejadiannya bertemu dengan Taehyung hingga saat ini. Dari awal mereka bertemu di minimarket hingga kejadian Taehyung pingsan tadi pagi.
“Apa Taehyung pernah memelototimu?. Ah, tidak sepertinya Taehyung hanya melakukannya denganku?. Hati-hati, Jungkook-ssi Taehyung akan menjadi seperti orang autis kalau kau sudah dekat dengannya. Ah, aku juga ingat, ia sangat jahil, Jungkook-ssi. Jadi mungkin jika kau sudah berteman dengannya kau akan terkena darah tinggi atau kau akan lelah sendiri menangani perilakunya.” Penjelasan panjang lebar Woohyun akhirnya mendapat bayaran yang setimpal terbukti dengan bantal rumah sakit yang kini mendarat di wajahnya  akibat perbuatan Taehyung.
Yak!, hyung jangan membicarakan keburukanku, memalukan sekali.” Woohyun hanya tersenyum senang melihat sifat asli Taehyung yang cerewet keluar. Sifat asli Taehyung yang Jungkook yakin pasti semua orang tak akan berpaling bila mengetahuinya.
“Tapi itu semua benar kan Tae?.” Woohyun menaik turunkan alisnya membuat Taehyung mendengus sebal dan Jungkook terkekeh geli.
Yak hyung tapi tak perlu membicarakannya sekarang, aish!.” Jungkook yang melihat perang mulut dua orang yang belum lama dikenalnya itu hanya bisa menggeleng sambil terkekeh pelan. Ikatan batin di antara keduanya sangat erat, begitulah pikir Jungkook. Woohyun yang hangat dan perhatian juga Taehyung yang cerewet dan aneh, sangat pas bila ingin membuat kekacauan.
KLEK
Annyeonghaseyo Kim Taehyung-ssi. Kami akan memeriksa kesehatan anda. Tolong walinya menunggu di luar.” Jelas dokter bertag name Choi Seunghyun dengan ramah. Woohyun memberi kode pada Jungkook lalu mengusap puncak kepala Taehyung dan akhirnya keluar bersama Jungkook. Meninggalkan Taehyung bersama seorang dokter tampan dan dua perawatnya.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Dua orang namja berjalan beriringan menuju taman belakang sebuah rumah sakit. Yang lebih tua duduk di sebuah bangku di sana, lalu disusul yang lebih muda.
Hyung. Ada yang ingin aku bicarakan.” Yang lebih muda angkat bicara lalu menunduk. Menahan segala bentuk kekecewaan dan keresahan yang telah mengusik hatinya dan juga pikirannya.
“Tae hyung dia mengidap-”
“Kanker darah stadium akhir, kan?. Aku sudah tahu, Jungkook-ssi.” Woohyun menatap lurus pada hamparan rerumputan dan bunga yang ada di hadapan mereka. Jungkook tak mengerti, apa arti semua ini. Tanpa sadar air matanya kembali jatuh untuk orang yang sama. Bahkan seakan Woohyun yang notabene mengenal Taehyung lebih lama pun malah terlihat mengikhlaskan ‘adik’nya itu.
“Kenapa?.” Suara Jungkook bergetar, segerombol air mata mulai membasahi wajah tampannya. Dan ia menahan isakannya, yang bahkan ia sendiri sama sekali tak menginginkan untuk mendengar isakannya.
“Dua bulan lalu, tepatnya tanggal 30 Maret saat aku mengantarkan makanan ke rumahnya aku menemukan surat diagnosa dari dokter kalau ia mengidap kanker darah stadium akhir. Saat itu aku juga sangat terkejut, bahkan ia tak memberitahuku sedikit pun. Aku lalu segera menghubungi dokter yang menangani Taehyung dan dokter itu bilang kalau Taehyung tak mau diobati dan usianya tinggal sekitar 6 bulan lagi. Ia ingin menjalani sisa hidupnya tanpa seorang pun yang tahu kalau ia sakit.” Woohyun tak menjawab pertanyaan Jungkook yang masih bingung. Ia justru menjelaskan hal lain pada pemuda yang jauh lebih muda itu tanpa menatapnya sedikit pun.
“Tapi kenapa ia masih terlihat sangat sehat, maksudku kenapa rambutnya tidak rontok atau mungkin keadaanya semakin lemah?. Kenapa hyung?.” Jungkook mulai terisak dan Woohyun mulai meneteskan air matanya. Pertahanan keduanya runtuh hanya karena memikirkan seorang yang sama,
KIM TAEHYUNG
“Itu semua faktor keturunan. Saat ayahnya dipenjara sebenarnya ayahnya juga mengidap penyakit kanker darah saat itu. Saat itu ayahnya juga terlihat sangat sehat, rambutnya tak rontok dan keadaanya tak melemah. Jadi tak ada yang tahu kalau sebenarnya ia sedang sakit.” Woohyun berucap sambil menguatkan hati. Bukan perkara mudah untuk berusaha tegar saat ini. Ia menelan udahnya yang sekeras karang. Bahkan orang yang ia sayangi pun harus dipermainkan takdir saat ini.
“Kenapa harus dia, hyung?!. Bahkan masa lalunya terlalu menyakitkan untuknya. KENAPA HARUS DIA, HYUNG?!.” Jungkook semakin terisak dan histeris membuat air mata Woohyun kian deras.
“Tenanglah, Jungkook. SEMUA TAK AKAN BERUBAH JIKA KAU MENANGIS DARAH SEKALI PUN!” Amarah Woohyun sudah memuncak dan ia sudah pada fase limitnya. Fase dimana ia sudah menyerah untuk berpura-pura menjadi orang yang sok tegar.
“Sebenarnya aku punya beberapa permintaan untukmu.” Yang lebih tua kini menatap yang lebih muda dengan tajam. Berusaha berpikir jernih di kala air mata membasahi wajah dan mencoba kuat saat hati telah terkoyak.
“Katakan, hyung.” Jungkook menghapus air matanya. Ya, ia akui kalau perkataan Woohyun memang benar, bahwa…
SEMUA TAK AKAN BERUBAH JIKA KAU MENANGIS DARAH SEKALI PUN
“Aku akan pindah ke Jepang untuk mengurus bisnis orang tuaku yang sudah pensiun besok. Aku mohon padamu untuk menjaganya, merawatnya, dan mendampinginya dalam keadaan apa pun. Jangan sampai ia kesepian dan sendiri. Temani dia. Dan juga aku meninggalkan tabunganku untuknya. Dengan terpaksa aku harus meninggalkannya, satu-satunya orang asing yang aku anggap adikku. Jika aku bisa memilih mungkin aku akan memilih untuk menemaninya melewati hari-hari terakhirnya, tapi sayangnya aku tak bisa.
Aku mohon, Jungkook. Jangan kecewakan dia, karena walaupun sangat tegar dan terlihat tak terlalu peduli pada apa pun, sebenarnya ia sangat rapuh dan mudah menyerah. Maka dari itu jaga dia untukku. Jaga adikku.” Woohyun menggenggam tangan Jungkook sambil terus meyakinkannya.
Ne, hyung.” Jawaban yang begitu singkat namun dapat membuat hati seorang Nam Woohyun menjadi lega kembali. Ada setitik harapan kecil di sana, di sebuah lorong tanpa cahaya yang pengap tanpa udara.
Gumawo, saeng.” Woohyun memeluk Jungkook dengan hangat tanda terima kasih. Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan penuh tanda tanya dari salah satu kamar rawat rumah sakit.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Yak! Kau tidak sekolah, eoh?.” Seseorang berpakaian baju pasien rumah sakit tampak mengguncangkan tubuh seorang pemuda bersurai gelap yang kini tengah terlelap di sofa. Orang itu lalu menendang pemuda itu hingga tersungkur ke lantai dengan tidak etisnya.
Arrgghh, sakit.” Jungkook mengusap punggungnya yang terbentur lantai. Hadiah dari Taehyung pagi ini memang tak main-main.
“Oh, mian. Gwenchanha?.” Orang tadi ikut mengusap punggung Jungkook dan memasang wajah yang terlihat khawatir. Sedangkan Jungkook sedikit memanfaatkan kesempatan itu.
“Sakit, arrghhh...” Jungkook masih saja memegangi punggungnya sambil terus mengaduh kesakitan. Sedangkan Taehyung merasa bersalah ia mencoba membantu Jungkook untuk bangun dan terus mengucapkan kata maaf.
KLEK
Eh, Woohyun hyung?. Kenapa pagi- pagi sudah kemari?. Apa hyung tidak bekerja?. Apa hyung tidak kuliah?. Kenapa berpakaian rapi sekali?. Sejak kapan kau punya baju berwarna putih hyung?. Kenapa tertawa?.” Taehyung bertanya dengan polosnya tak memikirkan bagaimana Woohyun menjawab pertanyan sebanyak dan secepat itu. Ia menghentikan acara –mari mengusap punggung Jungkook yang sakit karena ia tendang- sesaat.
“Silahkan duduk hyung.” Jungkook mempersilahkan Woohyun untuk duduk di sofa. Woohyun lalu duduk di sofa diikuti Jungkook yang duduk di sampingnya dan Taehyung yang duduk di depannya.
“Sebenarnya ada apa ini?.” Taehyung bertanya sambil menatap Jungkook. Tak biasanya hal-hal aneh seperti ini terjadi.
“Jangan tanyakan padaku. Tanyakan pada Woohyun hyung saja.” Jungkook menjawab enteng pertanyaan Taehyung. Tanpa memikirkan apa yang akan ia dapat nanti.
“Tunggu dulu-” Taehyung tampak berpikir sambil memperhatikan Jungkook. Bocah tengik itu tak tampak kesakitan, padahal beberapa sekon lalu bocah itu masih mengaduh sambil memegangi punggungnya. “YAK! KAU MEMBOHONGIKU, EOH?! PUNGGUNGMU TAK SAKIT, KAN?. AWAS KAU BOCAH TENGIK!” Dan terjadilah adegan kejar – mengejar dengan lemparan sandal dari Taehyung untuk Jungkook. Sedangkan Woohyun bisa bernafas lega sekarang, karena tahu bahwa Jungkook adalah sosok yang tepat untuk menemani Taehyung. Bukan orang yang dulu Taehyung kecewakan dan akhirnya memiliki dendam pada Taehyung. Dan ia bisa ikhlas untuk meninggalkan Taehyung dalam pengawasan Jungkook.
Hingga tak sengaja kaki Jungkook menyandung karpet rumah sakit, akhirnya Taehyung bisa mendapatkan Jungkook dan berhasil memukul bocah itu dengan sandal tidurnya.
Hhh.. hhh.. hyung, sebenarnya kau mau bilang apa?.” Taehyung akhirnya melepaskan Jungkook dan bertanya pada Woohyun. Keringat mengalir di pelipisnya pertanda bahwa pemuda bersurai dark grey itu memang sudah lelah mengejar Jungkook.
Aniya, aku hanya ingin menjengukmu saja. Yak, Kim Taehyung. Memangnya kau pernah membuka almariku? Aku punya banyak baju warna putih, Tae hanya saja aku malas memakainya. Dan-” Woohyung mengambil nafas sebentar lalu mendengus. “Kau pikir aku tak boleh berpakaian rapi, eoh?!.” Woohyun mengelak semua isi hatinya untuk berkata jujur pada Taehyung, karena ia tahu kalau saja ia memberi tahu Taehyung, bocah itu pasti melarangnya pergi. Kenyataan yang pahit memang, karena ia memang tak ingin melakukan perpisahan dengan Taehyung walau nyatanya ia memang harus benar-benar berpisah dengan namja manis ber-rectangle smile itu.
Taehyung menggaruk belakang kepalanya dan terlihat sedang berpikir. Ia merasa memang ada yang aneh dengan ‘Woohyun hyungnya’ itu, tapi ia tak mengerti di mana letak keanehannya. “Tapi itu aneh.” Lirihnya.
“Kau itu lebih aneh, Tae. Sudahlah aku mau pulang saja aku belum memberi makan Mokchul. Jaga dirimu, jangan lupa makan dan minum obatmu, Tae. Kalau tidak aku akan mencampurkan kacang ke seluruh makananmu. Arra?.”
N-ne.” Sebenarnya Taehyung sedikit tidak rela kalau Woohyun pergi secepat ini. Karena memang pemuda yang ia panggil ‘kakak’ itu berada di sini belum genap lima menit. Namun, akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah mengantar Woohyun ke depan pintu kamarnya bersama Jungkook. Yang tanpa Taehyung ketahui, perpisahan ini adalah perpisahan dan pertemuan terakhirnya dengan Woohyun. Mereka berdua lalu menatap kepergian Woohyun hingga punggungnya menghilang di balik tembok rumah sakit.
“Mokchul itu siapa?.” Tanya Jungkook polos. Mencoba menghilangkan kecanggungan di antara keduanya setelah kepergian Woohyun.
“Mokchul itu kucing Woohyun hyung yang kami temukan bersama di dekat sungai Han.” Taehyung menjawab tanpa menatap Jungkook. Jungkook memutar otaknya mencoba mencari sesuatu yang bisa mencairkan suasana kini. Karena ia tahu pasti Taehyung akan terus memikirkan Woohyun karena merasa ada yang aneh dengan Woohyun.
“Kau tak suka kacang?. Memangnya kenapa?.” Tanya Jungkook lagi. Ia menggigit bibir bawahnya, berharap apa yang ia tanyakan bukanlah sesuatu yang sensitif bagi Taehyung yang akan merusak moodnya.
“Rasanya tak enak, bodoh. Selain itu setelah aku memakan kacang pasti kulitku akan memerah dan suaraku menjadi serak.” Taehyung masih saja menatap lurus pada lalu lalang orang di rumah sakit. Sedangkan Jungkook tersenyum senang. Ternyata ini bukan sesuatu yang perlu ia takutkan.
“Sepertinya patut dicoba.” Jungkook mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu dengan evil smirknya….
HANYA UNTUK MENGHILANGKAN KECANGGUNGAN
“Apa?.” Taehyung bertanya dengan polos sambil menatap Jungkook. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum penuh arti.
“Memasukkan kacang ke makananmu. Sepertinya sangat lucu saat wajahmu yang merah dengan suara yang serak. HAHAHAHA.” Tawa Jungkook pecah.
Sedangkan Taehyung kini menatap Jungkook lalu menghadiahi pemuda di sampingnya itu dengan sebuah tendangan keras di pantat pemuda itu.
“YAK! TAE HYUNG! INI SAKIT!.” Pemuda itu menatap sengit pada yang lebih tua. Ia tak sadar jika sebenarnya yang lebih tua jauh lebih marah padanya.
“KAU! KAU TIDAK BELAJAR SOPAN SANTUN, EOH?! BAGAIMANA BISA KAU MEMANGGIL ORANG YANG JAUH LEBIH TUA DARIMU TANPA MENGGUNAKAN HYUNG?! KAU BODOH ATAU TAK TAHU SOPAN SANTUN?!” Amarahnya memuncak seiring pergerakkanya untuk memojokkan Jungkook berlangsung. Sebenarnya Taehyung tak benar-benar memojokkan Jungkook, hanya saja ia hanya ingin menguji seberapa takut Jungkook padanya.
A-aniyo. Bukan itu maksudku.” Jungkook mencoba tersenyum pada ‘hyung’nya itu sambil mencari alasan yang tepat.
“LALU APA MAKSUDMU, HA!” Taehyung menarik kerah kemeja sekolah yang sudah Jungkook gunakan selama dua hari.
“Begini. Bukankah aku tadi bilang untuk memanggilmu Tae saja. Nah, jadi Tae hyung itu bukan sepenuhnya namamu. Tae dari namamu dan hyung yang kumaksud adalah kakak laki-laki. Jadi aku akan memanggilmu Tae hyung, okay?.” Jungkook mencoba menjelaskan dengan tenang, padahal sebenarnya bocah itu sudah berkeringat dingin melihat amukan Taehyung.
Taehyung tampak berpikir lalu kembali menatap Jungkook. “Baiklah. Diterima, tapi kau harus membelikan aku sup sundae, bulgogi dan soda. Cepat sana!” Perintah yang lebih tua itu pun dilaksanakan yang lebih muda dengan senang hati.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Geobuneun geobuhae
Nan wonrae neomuhae
Modu da ttara hae
Senandung itu terdengar dari mulut seorang pemuda yang kini tengah menyusuri lorong rumah sakit sambil membawa sejumlah makanan yang akan ia dan ‘hyung’nya makan siang ini. Namun sebuah suara menghentikan langkahnya. Dan membuatnya kini berdiri tepat di depan televisi rumah sakit yang tengah menayangkan sebuah berita.
“Diketahui pesawat dengan kode penerbangan V-2110 tersebut mengalami turbulensi dan akhirnya menabrak sebuah bukit pada perjalanan perdananya menuju Tokyo, Jepang pada pada pukul 10.30. Pesawat yang lepas landas dari bandara Incheon pada pukul 10.00 tersebut diketahui membawa 129 penumpang dan 19 kru pesawat. Berikut adalah nama-nama korban yang telah berhasil di identifikasi
Ayumi Ryuzuki Tamada 43 tahun, Kim Myungsoo 24 tahun, Shin Woohyun 25 tahun........”
DEG
Jantung pemuda tersebut serasa berhenti berdetak. Tanpa pikir panjang pemuda itu segera berlari ke sebuah kamar yang ada di rumah sakit tersebut, juga tanpa memikirkan belasan lalu lalang orang lewat yang sudah ia tabrak tanpa sengaja.
“Jangan sampai ia tahu, Ya Tuhan. Aku mohon.” Untaian permohonan pada Sang Pencipta itu tak henti-hentinya ia ucapkan. Hanya untuk seseorang yang menunggunya di sana, di salah satu ranjang pesakitan.
“Aku mohon Tuhan.” Dan deretan permohonan terus mengalun selama langkah kakinya yang membawanya menuju sebuah kamar dengan nuansa serba putih.
KLEK
BRUK
Dan semua makanan yang ia pegang pun kini terjatuh seiring dengan kedua matanya yang menatap tak percaya pada pemandangan di depannya. Hatinya mencelos. Dan linangan air mata kembali mengalir tanpa seijin sang pemilik.
Hyung.” Lrihnya. Namun tak ada sahutan dari orang yang dipanggilnya itu. Orang yang dipanggilnya itu kini tengah berdiri mematung di depan layar televisi sambil memandang layar televisi yang ada di kamarnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bagaikan membuka luka lama, bahkan kini hatinya jauh lebih sakit dari sebelumnya. Seakan dunia mencoba mengujinya lagi saat ratusan persoalan yang belum ia jawab telah menantinya.  Luka hati yang memaksanya kembali mengingat semua kenangan indah yang takkan terulang lagi barang sedikit pun. Luka yang tak pernah sembuh berikut rasa sakit yang terus menjalar saat otaknya kembali memutar semua memori indah yang lagi-lagi akan menghancurkannya saat ia mengingatnya.
BRUK
Dan pemuda bersurai abu-abu tua itu terduduk lemas di lantai. Dengan kedua tangan yang terkepal di samping tubuhnya, pemuda itu mencoba mengatur nafas dan amarahnya yang tak stabil.
“Kenapa ia tak berpamitan padaku? Kenapa aku tak tahu kalau ia akan pergi? Kenapa ia meninggalkanku?” Lirih Taehyung sambil mencoba menahan amarahnya. Yang lebih muda pun mendekat dan memeluk yang lebih tua, mencoba menenangkannya.
“Maafkan aku hyung. Sebenarnya aku tahu semuanya. Tentang kepergian Woohyun hyung ke Jepang. Maaf hyung, maafkan aku.” Dan kalimat sederhana tersebut berhasil membuat jantung Taehyung seakan berhenti berdetak. Dan dengan kekuatan yang tersisa ia mendongak, menatap wajah Jungkook yang kini telah banjir air mata.
Hyung. Maafkan aku.” Dan Jungkook semakin mempererat pelukannya. Namun Taehyung malah melepas pelukan pemuda berzodiak virgo itu tanpa hati nurani teselip di dalamya.
“Kenapa? Kenapa? Kau ingin menghancurkanku juga, eoh?!.” Dan dengan sekuat tenaga Taehyung mengguncang tubuh Jungkook untuk meminta penjelasan, tapi pemuda itu malah terisak dan tak menjawab. Membuat Taehyung kian geram dan segera meluapkan semua emosinya.
BRUK
Dan sebuah benturan yang Taehyung hasilkan pada kepala Jungkook itu berhasil membuat darah mengalir di pelipis pemuda itu. Taehyung baru saja mendorong pemuda bersurai gelap itu ke tembok hingga pelipisnya membentur dinding bercat putih yang kini penuh dengan bercak darah itu. Tanpa pikir panjang, Taehyung segera menghempaskan sebuah pukulan ke arah wajah Jungkook hingga pemuda itu babak belur di tangan Taehyung.
BUGH
“INI UNTUKMU KARENA TELAH MEMBOHONGIKU!”
BUGH
“INI UNTUKMU KARENA MERUSAK KEPERCAYAANKU!”
BUGH
“INI UNTUKMU KARENA-” Suara Taehyung tercekat, ia seperti kehilangan kekuatan. “Karena aku terlalu jauh mempercayaimu!” Dan Taehyung akhirnya melepaskan cengkeramannya pada kerah pakaian Jungkook dan menghempaskan tubuh yang sudah lemas itu ke lantai dengan amat keras.
“KENAPA?! KENAPA KAU BERBOHONG PADAKU? KAU SENGAJA MELAKUKAN INI, KAN?. JAWAB AKU JEON JUNGKOOK!” Taehyung berdiri dari posisinya dan berjalan menuju balkon kamarnya. Ia mulai memanjat pagar rumah sakit itu. Berharap semua rasa sakitnya, baik di badan mau pun di hati bisa segera lenyap saat ia meregang nyawa.
HYUNG HENTIKAN! MAAFKAN AKU! AKU AKAN MEMPERBAIKI SEMUANYA, HYUNG!” Jungkook mencoba menahan Taehyung dengan memeluknya namun Taehyung kembali mendorong pemuda itu sehingga pemuda itu kini meringis kesakitan dan darah segar semakin banyak mengucur dari pelipisnya.
“MEMPERBAIKI KATAMU?!. ORANG BODOH MACAM APA KAU? MEMANGNYA KAU BISA MENGHIDUPKAN WOOHYUN HYUNG LAGI, EOH?!” Taehyung menghadap Jungkook yang memohon padanya. Bahkan jika bisa dikatan lebih kasar lagi, hal itu bukan lah memohon, tapi MENGEMIS.
Hyung aku mohon!” Jungkook menarik Taehyung sambil terisak. Taehyung menatap tajam mata Jungkook yang sudah berair dengan mata elangnya.
“HENTIKAN! JANGAN BERPURA-PURA LAGI!” Dan dengan amarah Taehyung yang memuncak, Taehyung mengayunkan tanganya ke wajah Jungkook yang sudah penuh lebam dan berlumuran darah segar.
PLAK
Satu tamparan telak mengenai wajah Jungkook. Dan hal itu tak membuat Jungkook gentar, ia masih terus ‘MENGEMIS’ pada Taehyung.
“KIM TAEHYUNG! APA YANG KAU LAKUKAN! TOLONG HENTIKAN!”
 Dan suara baritone itu berhasil menghentikan pertengkaran antara Taehyung dan Jungkook. Jungkook menoleh, mendapati Seunghyung seongsae sudah datang bersama beberapa perawat.
“PERGI KALIAN SEMUA!” Teriakan Taehyung menggema di seluruh pejuru ruangan yang ada di lantai 16 rumah sakit ketiga terbesar di Korea Selatan itu. Taehyung mulai melangkahkan kakinya menuju pagar rumah sakit kembali.
Amarahnya sudah sampai puncak. Dan ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang selain meregang nyawanya sendiri. Ia menatap ke bawah, ke halaman rumah sakit Kanghan yang ramai. Ia memantapkan niatnya. Sudah tak ada gunanya lagi hidup jika tak ada seorang pun yang dapat kau percayai. Taehyung menelan salivanya yang serasa sekeras batu karang.
Aku akan menyusulmu, hyung
ANDWAE!!!”
Baru satu langkah saat ia akan melompat, cepat-cepat tim dokter menariknya dan menahannya.
“LEPASKAN!” Taehyung mencoba melawan namun ia kalah jumlah. Seunghyun seongsae mulai mengeluarkan sebuah suntikan berisi cairan bius. Melihat kejadian itu, Jungkook terdiam, hatinya mencelos. Semua ini takkan terjadi kalau ada dirinya. Dirinya yang hadir di kehidupan Taehyung yang sudah hancur. Dan ia menghancurkannya hingga tak berbentuk dan remuk sekarang. Itu semua karenanya, Jeon Jeong Guk.
Dan suasana mencekam tersebut berakhir setelah Seunghyun seongsae menancapkan suntikkannya pada pergelangan tangan Taehyung.
Taehyung jatuh melemas dan suaranya pun mulai terdengar semakin lirih dan pilu.
“Aku membencimu.” Dan suara lirih dari mulut Taehyung itu mengakhiri pemberontakkannya. Ia sudah tak sadarkan diri.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

“Aku mohon, Jungkook. Jangan kecewakan dia, karena walaupun sangat tegar dan terlihat tak terlalu peduli pada apa pun, sebenarnya ia sangat rapuh dan mudah menyerah. Maka dari itu jaga dia untukku. Jaga adikku.”
Ingatan Jungkook terus berputar pada kejadian saat Woohyun berpesan bahwa ia akan menitipkan Taehyung padanya. Ia telah mengkhianati Taehyung dan Woohyun. Ia tak bisa menjaga Taehyung. Ia justru melukainya. Membuat lukanya tertancap jauh lebih dalam lagi. Hingga darah tak terlihat itu kembali mengalir, menganak pinak menjadi beberapa sungai darah yang berbau kepedihan kembali menyeruak.
“Maka dari itu jangan khianati dan tinggalkan aku, bocah”
“Aku tak ingin Woohyun hyung bahkan kau, kalian yang aku percayai meninggalkanku.”
Taehyung mempercayainya. Ya, Taehyung mempecayainya. Tapi ia mengkhianatinya. Ia bodoh. Seharusnya ia tak di sini agar Taehyung tak menderita. Taehyung menderita karenanya. Itu benar. Dan tak perlu dipertanyakan lagi karena seharusnya adalah…
IA TAK SEHARUSNYA DI SINI
“Ambil nyawaku Tuhan.” Suara pemuda itu terdengar pilu. Air mata masih berlomba-lomba  keluar dari matanya.  Menggambarkan beribu kepedihan yang tergambar jelas di hatinya.
“Maafkan aku hyung”  Ia lalu segera mengusap air mata sialan itu. Ia bangkit, mencoba menghadapi kenyataan bahwa hidupnya memang menyedihkan. Karena jika ia semakin mengulur waktu, luka itu akan semakin tertancap dalam di hatinya….
MAUPUN DI HATI TAEHYUNG
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Menyakitkan memang
Tapi aku telanjur berjanji
Berjanji untuk mempercayaimu
Namun kau selalu merusaknya
Merusak janji yang kubuat
Hentikan, ini menyakitkan
Jangan buat hatiku lebih sakit lagi
Hentikan, ini menyedihkan
Jangan buat aku membencimu
Karena membencimu adalah sebuah kesalahan bagiku        

“Maafkan aku hyung. Jangan buat dirimu lebih menderita lagi. Bunuh aku hyung jika itu membuatmu merasa bahagia. Maafkan aku hyung.” Pemuda itu terus mengucapkan hal itu dalam tidurnya. Ia mengigau. Bahkan sesekali isakan dan air mata kembali muncul dari mata indahnya. Menampakkan sebuah kesedihan mendalam di sana, dan tak satu orang pun dapat mengelak jika pemuda itu kini memang tengah tersiksa.
Sebuah tangan meraih pelipis pemuda itu. Mengusap darah yang kini bahkan sudah mengering karena belum sempat pemuda itu bersihkan. 
“Bangunlah...” Suara husky baritone itu terdengar serak dan hampir tak terdengar.
Eungh...” Dan lenguhan kecil itu keluar dari mulut pemuda yang perlahan mulai sadar dari tidurnya. Mencoba membiasakan maniknya dengan bias cahaya dari ruangan serba putih itu.
“Maaf.” Hanya sebuah kata sederhana yang keluar dari mulut Taehyung. Kata yang diucapkan dengan suara yang serak dan bergetar. Kata yang sederhana namun sakral. Kata yang sederhana namun penuh akan makna.
Eh!? Hyung?!” Jungkook terkejut dengan apa yang Taehyung ucapkan. Karena memang bukan perkara mudah untuk seorang Kim Taehyung yang tak bersalah itu meminta maaf.
“Maaf.” Taehyung menunduk dan menghela nafas panjang. Karena amarahnya yang tadi telah memporak-porandakan akal sehatnya, membuat Jungkook harus merasakan sakit luar biasa tanpa sebab yang jelas.
“Jangan minta maaf padaku hyung. Aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku bersalah hyung. Maaf hyung.” Jungkook menelan salivanya. Tenggorokannya bagaikan tertembus oleh sebuah belati yang membuatnya semakin pedih dan penuh dengan darah. “Maafkan aku hyung. Aku tak pantas menjadi ‘adik’mu.” Dan Jungkook meraih tangan Taehyung dan mengenggamnya erat. Tangisnya pun pecah seiring rentetan kalimat permintaan maafnya.
Aniya. Sekarang hanya kau satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Aku akan memberikanmu satu kali lagi kesempatan. Jadi, aku mohon jangan sia-siakan rasa percayaku padamu.” Taehyung yang melihat Jungkook semakin terisak bergerak untuk menuntun Jungkook ke dalam pelukannya. “Maafkan aku juga, saeng.”
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Angin bertiup pelan menerbangkan sebutir debu yang tak berharga. Membawa kenangan buruk yang takkan terlupakan kembali menyusup kembali ke ingatan seorang anak manusia tanpa harapan. Kaki rapuhnya melangkah di atas lantai marmer yang mewah namun dingin. Menghantarkan tangannya untuk menyentuh pundak seorang pemuda yang tengah terlelap dan meringkuk di atas sebuah sofa bermotif garis.
“Bangunlah...” Tak ada sahutan dari pemuda itu. Dan dengan jahilnya Taehyung menjewer telinga Jungkook.
Akh!” Dan setelah perjuangan keras yang Taehyung lakukan kini membuahkan hasil. Jungkook membuka matanya lebar sambil memasang ekspresi penuh tanya.
“Kenapa hyung?” Jungkook merajuk sambil memasang wajah memelas. Taehyung lalu memberinya secarik kertas dengan beberapa susunan huruf.
“Itu alamat rumahku. Pulanglah kesana. Kau bisa mandi atau beristirahat. Hanya berjarak tiga blok dari sini. Kuncinya aku taruh di bawah pot anggrek.” Jungkook mengangguk mengerti lalu menatap Taehyung.
Ne, hyung.” Dan Jungkook mulai mengenakan sepatunya dan memungut tasnya.
“Oh ya, kau bisa mengganti bajumu dengan bajuku.” Jelas Taehyung sambil tersenyum. Membuat sebuah kelegaan kecil menyusup di hati Jungkook.
Ne, hyung aku berangkat.” Pemuda bermarga Jeon itu lalu segera melesat pergi dengan tidak etisnya. Sedangkan Taehyung hanya menatapnya sambil tersenyum, mengabaikan rasa sakit yang sudah menjalar di dadanya sejak beberapa menit yang lalu.
Ughhhh..” Taehyung menepuk-nepuk dadanya guna mengurangi rasa mualnya. Sesaat kemudian darah segar mengalir dari hidung bangirnya.
SHIT
Taehyung segera melangkah menuju toilet yang ada di kamar rawatnya. Rasa sakitnya memang telah mencapai klimaksnya. Ia bahkan belum pernah merasakan ini sebelumnya. Perutnya serasa tercampur aduk, kepalanya pening luar biasa, kakinya lemas, pandangannya buram, dan nafasnya amat sangat berat. Dan dengan tergesa-gesa ia ia segera menghampiri washtafel dan mengusap darah sialan yang tak kunjung berhenti mengalir itu.
HUEK..hhh… huek…huek…” Dengan usaha terakhirnya Taehyung mencoba melampiaskan rasa sakitnya dengan memuntahkan semua darah yang dari tadi hendak keluar dari mulutnya.
Hhh…hhh…hhh…” Taehyung menyeka lelehan air yang menetes dari mulut dan hidungnya. Ia pandang cermin yang ada di depannya lamat-lamat. Ia amati wajahnya, pipinya yang pucat mulai terlihat kurus, bibirnya pucat dan kering, matanya berair dan memerah. Tragis memang. Seorang Kim Taehyung yang dilahirkan dari keluarga kaya raya harus mengalami semua ini. Seorang Kim Taehyung yang tak tahu apa-apa harus mengalami semua ini. Kim Taehyung yang lemah dan mudah hancur. Kim Taehyung yang menyedihkan kontras dengan cita-citanya yang sungguh mulia di masa kecil.
“Ayah…” Rengek Taehyung kecil sambil meraih sweater ayahnya dan sedikit mengguncangkannya. Tatapan sang ayah yang sebelumnya terfokus pada langit malam Seoul yang bertabur bintang kini beralih pada sang putra yang menatapnya penuh harap.
“Apa sayang?” Sang ayah beralih mengusak rambut hitam legam bocah yang memakai kaos biru bergambar singa tersebut.
“Aku ingin menjadi dokter, ayah. Aku ingin membantu orang yang sakit agar bisa sembuh kembali. Supaya orang yang sakit bisa tersenyum, makan enak, jalan-jalan, dan bercanda bersama keluarganya lagi. Ayah mau kan mengabulkan cita-citaku?” Taehyung menggenggam tangan besar ayahnya.
“Tentu saja sayang”
“Nanti jas dokterku tulisannya Kim Taehyung yang tampan ya, ayah?” 
“Tentu saja sayang”
“Atau mungkin Kim Taehyung putra kebanggaan Kim Taejung. Pasti bagus ayah.”
“Tentu saja sayang. Ayah berjanji”
“Mana janjimu ayah?” Taehyung menggenggam sesuatu di balik pakaian rumah sakitnya. Sebuah liontin dengan gambar keluarganya yang diambil sebulan sebelum tragedi nahas menimpanya dan keluarganya. Sebuah tragedi yang Taehyung tak akan pernah lupa. Tragedi yang membuat Taehyung kehilangan kepercayaan kepada semua orang, kecuali satu orang, yaitu Jeon Jungkook.
Disaat anak-anak lain berlari-lari sambil membawa hadiah natalnya, di hari laknat itu Taehyung justru bersujud di depan kantor polisi sambil menangis. Hanya untuk memohon sebuah permintaan terakhir dari ibunya.
“Ampuni aku Tuhan. Hiks..” Dan dengan tidak terhormatnya, untuk pertama kalinya setelah lima tahun terakhir, seorang Kim Taehyung menangis. Menangisi sesuatu yang bahkan harusnya sudah ia lupakan.
Ia tahu dengan pasti bahwa walau pun  ia menangisi satu persatu anggota keluarganya hingga ia menangis darah pun, semua tak akan pernah kembali. Kebahagiaan, keceriaan, dan kasih sayang, semuanya tak akan pernah kembali padanya, pada pemuda lemah yang tak berguna yang mengaku baik-baik saja,
KIM TAEHYUNG.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

“Apa kau yakin akan benar-benar tinggal di sini?” Pertanyaan Taehyung membuat Jungkook menoleh setelah menutup pintu rumah Taehyung. Pemuda itu memang sedikit bingung dengan pertanyaan Taehyung yang tampak ragu-ragu untuk berucap.
“Tentu saja. Memangnya kenapa?. Toh kita bisa berangkat bersama setiap hari. Aku juga bisa membantumu bersih-bersih atau memasak.” Pemuda itu lalu segera menghempaskan tubuhnya di sofa sederhana yang ada di rumah Taehyung. Sedangkan Taehyung segera duduk di samping Jungkook sambil melepas jaketnya.
“Bukan itu masalahnya. Tapi, kau tahu kan kalau aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membiayai dua orang sekaligus?” Taehyung menatap pemuda itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Ada sebuah kekhawatiran di sana. Di mata indah Taehyung yang memang tak akan bisa berbohong.
Jungkook menghela nafas lalu menggeser duduknya hingga kini menghadap Taehyung. “Hyung, sebenarnya Woohyun hyung meninggalkan tabungannya untuk kita berdua. Dan uang yang kugunakan untuk membayar biaya rumah sakit itu juga uang Woohyun hyung.”
“Berapa banyak uangnya?” Selidik Taehyung, ia hanya takut jika saja uang itu akan membebaninya suatu saat nanti.
Ehm.. Kalau tidak salah sekitar dua ratus juta won.” Jungkook menjawab enteng dan beralih meneguk air putih dari botol.
“Bagaimana bisa ia meninggalkan uang sebanyak itu padahal umurku tinggal enam bulan?.” Gumam Taehyung pelan namun masih bisa di dengar oleh telinga Jungkook dan otomatis membuat Jungkook menyemburkan minumannya.
Jungkook memelototi Taehyung lalu berhambur memeluknya dengan sangat erat seolah takut kehilangan. Kehilangan orang yang sungguh berarti dalam hidupnya.
HYUNG!. Tolong. Jangan katakan hal seperti itu hiks… kau pasti bisa hyung. Kau adalah orang yang paling kuat yang kukenal selama ini. Kau tak boleh menyerah hanya dengan penyakit seperti itu. Kau pasti bisa hidup lebih lama dari aku. Hyung aku mohon, jangan katakan hal seperti itu lagi. Hiks..” Taehyung membalas pelukan Jungkook. Jungkook terisak dalam pelukan hangat seorang Kim Taehyung. Kehangatan Kim Taehyung yang hanya ia  seorang yang mengetahuinya.
Mianhe. Maafkan aku. Aku tak akan mengatakan hal itu lagi.” Sedangkan hati Taehyung mencelos. Jungkook benar-benar menganggapnya sebagai ‘kakak’nya. Jungkook terlalu baik untuknya. Dan Taehyung tak bisa membalas ketulusan dan kebaikan seorang Jeon Jungkook.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Matahari bersinar terang. Mengiringi pagi dua orang anak manusia tanpa dosa yang mencoba melawan kerasnya dunia. Mencoba melewati badai yang menghadang di depan mata. Mencoba melalui jalan terjal yang melelahkan. Mencoba terus berjuang dan berharap agar permata indah yang bermandikan cahaya berkilauan dapat mereka miliki. Mereka adalah Kim Taehyung dan Jeon Jungkook. Yang kini tengah menyusuri trotoar menuju tempat mereka menimba ilmu.
Hyung mereka siapa?” Tanya Jungkook polos sambil melirik dan melihat lima orang yang berseragam sama dengan mereka.
Ssssttt… diamlah! Mereka adalah genk paling psikopat di sekolah yang mengincarku. Jika kau melakukan kontak mata sekali saja dengan mereka, pasti kau akan langsung” Taehyung berbisik dan di akhir kalimatnya ia menggerakkan telunjuknya di depan leher dari kiri ke kanan menirukan cara orang memenggal ayam. Ia lalu menggunakan hoodie di jaket hitamnya lalu beranjak pergi.
Ah ne.” Dan sayangnya Jungkook telah melakukan kontak mata dengan salah satu dari mereka dengan tag name
KIM SEOK JIN
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Hyung kau mau makan apa?” Pertanyaan pemuda bersurai hitam itu berhasil membuyarkan lamunan pemuda berkulit pucat di sampingnya. Dan dengan lemah pemuda itu berkata,
“Terserah kau saja. Yang penting jangan ada unsur kacangnya.”
Dan dengan berakhirnya kalimat Taehyung, Jungkook mulai melangkah menuju pantry. Namun langkahnya terhenti saat seorang pemuda berambut coklat tua menarik tangannya dan memaksanya pergi.
HYUNG!” Terlambat!. Taehyung lebih dulu pergi ke alam mimpinya.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Di sebuah ruangan yang Jungkook tak tahu namanya, kelima siswa berandalan yang ia lihat tadi pagi sedang berdiri dengan angkuhnya di depannya.
“Jeon Jeong Guk. Nama yang bagus.” Salah satu dari mereka mengusap tag name yang bertengger rapi di jas sekolah Jungkook. Pemuda bersurai coklat gelap itu lalu beralih mengusak rambut Jungkook yang tertunduk takut. Jungkook membaca tag name pemuda itu, Kim Seokjin. Dan Jungkook segera menundukkan kepalanya kembali setelah tatapan matanya bertabrakan dengan pemuda di depannya itu.
“Apa hubunganmu dengan Taehyung, Jeong Guk-ssi?” Kini giliran pemuda dengan tag name Jung Hoseok yang menanyai Jungkook yang masih saja menunduk.
Jungkook hanya diam dan tak menjawab. Batinnya justru berperang untuk mempertanyakan apa yang siswa-siswa berandalan ini inginkan darinya.
“JAWAB AKU BODOH!” Hoseok naik pitam dan…
PLAK
…menampar pipi putih Jungkook.
“Aku hanya teman sebangkunya yang dekat dengannya.” Jungkook menegakkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Hoseok dengan jujur. Memang benar kan kalau ia dan Taehyung adalah teman sebangku yang dekat?. Walau artian dekat yang menurut Jungkook memiliki arti tersendiri.
“Sudah kuduga. Sudahlah hyung kita tinggalkan saja dia.” Pemuda bermarga Park itu menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap Jungkook bosan.
“Park Jimin, kau pikir kita bermain-main, eoh?.” Gertak Kim Namjoon, yang membuat Jimin bungkam seketika. Namjoon memang tak main-main kalau memang sedang marah.
“Maaf hyung.” Jimin menunduk seketika.
“Lalu kenapa kau tadi pagi berangat bersama Taehyung?. Kau juga menemani Taehyung saat ia di rumah sakit, kan?. Kau-” Seokjin melirik Yoongi yang sedang memainkan pisau lipat di tangan putihnya.
“Ba- bagaimana kau bisa tahu?.” Tanya Jungkook ketakukan sambil menelan ludahnya yang serasa seperti pisau yang menancap tepat di kerongkongannya.
TRAK
“KAU PIKIR AKU BODOH, HA?!.” Seokjin meluapkan amarahnya dengan membentak dan menancapkan pisau lipat yang sebelumnya bertengger manis di tangan Yoongi menjadi berada di samping telinga Jungkook hingga menimbulkan suara deritan yang cukup keras karena ujung pisau lipat itu bertemu dengan tembok usang di belakangnya.
Nyaris saja kepalamu ditusuk dengan pisau, Jeon Jungkook
“Aku tahu kau marah, Seokjin-ah. Tapi jangan mencoba untuk membunuhnya sekarang.” Yoongi merebut pisau yang ada di genggaman Seokjin sambil tersenyum remeh.
“DIAM KAU MIN YOONGI!.” Manik Seokjin menatap manik Yoongi tajam, penuh dengan isyarat dan intimidasi.
“KUPERINGATKAN KAU JEON JEONG GUK!. JIKA KAU MASIH BERANI MENDEKATINYA LAGI, KAU AKAN BERADA DALAM POSISI YANG SANGAT SULIT!.” Seokjin berucap sambil menarik kerah kemeja Jungkook.
“Sudah, kan?. Aku pergi.” Jungkook melangkah keluar lalu membanting pintu dengan keras setelah melepaskan cengkraman tangan Seokjin.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Di tempat lain…
Taehyung sudah menunggu Jungkook cukup lama di kantin. Sejak bel sekolah itu meraung-raung pikiran Taehyung memang tak tenang. Bukan karena jam pelajaran Park seongsae yang menyenangkan tapi pelit nilai itu, tapi karena Taehyung teringat sesuatu. Ia takut jika Jungkook tiba-tiba terlibat dengan ‘dia’
Taehyung tengah duduk sendirian di taman. Woohyun hyung membohonginya kali ini. Woohyun bilang ia akan mengajaknya makan siang setelah bermain di taman. Tapi harapan itu sirna setelah ia mendapat telepon dari Woohyun kalau pemuda berusia 25 tahun itu tak bisa menemuinya karena ada pekerjaan mendadak dari bosnya.
Taehyung menghela nafas panjang dan tiba-tiba saja pandangannya menghitam bukan karena ia pingsan karena nyatanya ia masih bisa merasakan semilir angin mengenai rambutnya. Bukan juga karena tiba-tiba saja terjadi pemadaman listrik karena ini masih siang. Hei! Lagi pula Taehyung tak sebodoh itu untuk merasakan tangan hangat siapa yang kini menutup kedua kelopak matanya secara tiba-tiba, kan?.
Hyungie!” Orang yang dipanggil ‘Hyungie’ itu mendesah berat karena tertangkap basah dan duduk di samping Taehyung sebelumnya ia melepaskan kedua tangannya dari kelopak mata Taehyung.
Yah, ketahuan lagi. Uri Taehyung sangat peka ya ternyata?.” ‘Hyungie’ menatap Taehyung hangat sambil menyerahkan sebuah es krim pada Taehyung.
“Memangnya aku sebodoh itu untuk tak bisa mengenali tangan lebarmu yang hangat itu, eoh?.” Taehyung mulai menjilati es krimnya sambil menggoyang-goyangkan kakinya, persis bocah.
“Terserahmu sajalah. Ngomong-ngomong kapan Woohyun hyung datang? Aku sangat ingin bertemu dengannya, Taehyung-ah. Sepertinya Woohyun hyung itu orang yang sangat baik.” Pemuda itu lalu mengikuti langkah Taehyung, menikmati es krimnya.
Taehyung menghela nafas berat lalu menghentikan aktivitas memakan es krimnya. “Woohyun hyung tak bisa datang hyungie. Ia bilang ada pekerjaan mendadak dari bosnya. Maaf ya hyung.” Taehyung menunduk. Tak lama kemudian Taehyung merasakan sebuah tangan besar mengusak rambutnya.
“Tak apa, lagi pula masih ada kesempatan lainnya kan?.” Taehyung mengangguk lalu kembali menjilati es krimnya kali ini sambil terkekeh geli, persis bocah.

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Taehyung di taman sambil memakan es krim, pemuda tampan itu dikejutkan dengan kehadiran Taehyung di kediaman keluarganya yang mewah pagi-pagi sekali.
“Ada apa Taehyung-ah?.” Pemuda itu bertanya pada Taehyung yang tampak gugup. Jelas saja ia bingung. Pertama, bagaimana Taehyung bisa tahu alamatnya, kedua, Taehyung nampak gugup kali ini, lalu ini masih terlalu pagi untuk berkunjung. Bukankah benar saja jika ia bertanya sedemikian rupa?.
“Aku-aku ingin keluar dari group hyung. Karena aku sudah muak dengan ka-kalian.” Taehyung menatapnya dengan tatapan yang tajam yang sulit diartikan. Membuat pemuda di depannya membelalakkan matanya tak percaya dengan kalimat yang baru saja diucapkan Taehyung.
MWO?!” Pemuda di hadapan Taehyung itu jelas saja kaget. Ia memang tak tuli untuk menanyakan kembali pernyataan Taehyung. Namun yang membuatnya bertanya kembali adalah…..
KARENA PERNYATAAN TAEHYUNG YANG MELANGGAR JANJI
“AKU MUAK DENGAN KALIAN TERLEBIH DENGANMU, HYUNG!. KALIAN ITU PENGECUT! BULLSHIT! STUPID! AKU MUAK! MAKA DARI ITU AKU AKAN MENGAKHIRI HUBUNGANKU DENGAN GROUP, DENGAN KALIAN. TERUTAMA DENGANMU, HYUNG! KALIAN SEMUA SAMPAH!” Taehyung menatap marah pemuda di hadapannya dengan nafas tak teratur.
“KIM TAEHYUNG BICARA APA KAU?!.” Dan dengan satu ayunan tangan…
PLAK
…..pemuda tampan itu berhasil menampar pipi Taehyung dengan amat keras, hingga terciptalah tetesan darah yang mengalir di sudut bibir Taehyung.
“Maaf hyung. Tapi aku harus pergi. Selamat tinggal, ‘hyungie’” Taehyung mengusap bekas tamparan dari ‘hyung’nya itu. Dan dengan langkah tergesa, pemuda bersurai coklat tua itu pergi begitu saja…
BLAM
PUK
Tehyung terlonjak saat sosok yang ia tunggu sejak tiga puluh menit lalu itu hadir dan mengganggu acara mengingat-ingatnya.
“Lama sekali, darimana saja kau?.” Itu pertanyaan Taehyung yang membuat Jungkook merinding seketika. Seseorang tolong bantu Jungkook untuk berbohong sekarang.
“Perutku sakit, hyung.” Alasan yang tak terlalu buruk. Dan Taehyung hanya mengangguk mengerti.
“Ayo kita ke kelas. Bel sialan itu sudah meraung-raung sejak tadi.” Taehyung lalu merangkul ‘adik’nya itu dan berjalan beriringan menuju kelas.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

Mencekam, sebuah kata yang begitu sesuai untuk menggambarkan malam ini. Angin malam berhembus dengan liar membuat hawa dingin itu berterbangan bak kupu-kupu yang bebas mengepakkan sayap kemana pun ia inginkan. Derasnya tangisan sang langit yang membuat siapapun terhempas dalam imajinasi liar membuat malam ini terasa bak bermimipi buruk.
Suara langkah yang diseret itu menandakan masih ada kehidupan dalam rumah  satu lantai itu. Langkah itu berhenti di suatu titik sejenak lalu berlanjut lagi ke titik lain yang cukup jauh.
HYUNG!” Teriak Jungkook membabi buta. Ia segera meraih benda yang ada di genggaman Taehyung dengan secepat kilat, lalu membantingnya secara asal dalam hitungan kurang dari satu detik.
“Jangan lakukan ini, hyung. Tolong, semuanya bisa semakin memburuk jika kau melakukannya.” Jungkook mencoba menatap manik bening Taehyung di tengah kegelapan yang terjadi dan manik itu hanya memancarkan sebuah tatapan kosong. Tatapan kosong yang luar biasa menyakitkan untuk Jungkook.
“BICARA APA KAU ANAK KECIL!. BERIKAN BIR ITU LAGI!.” Taehyung yang sudah mabuk tak dapat membendung lagi amarahnya. Dan dengan keberaniannya Jungkook memukul tengkuk Taehyung hingga Taehyung tak sadarkan diri.
“Tidak, kau harus tidur sekarang! Maaf hyung.” Jungkook menyeret tubuh Taehyung yang lunglai ke dalam kamar dengan dua ranjang itu.
“Selamat tidur, hyung.” Jungkook mengusap surai Taehyung setelah melihat ‘kakak’nya itu tertidur pulas.
“Aku akan membuang semua bir yang ada di kulkas besok.” Dan Jungkook akhirnya mengikuti Taehyung untuk pergi ke alam mimpi.
------------------------------BETTER WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------

“Berhenti mendekati Taehyung lagi, bocah!.” Seokjin menghempaskan tubuh kurus Jungkook ke lantai membuat pemuda dengan surai hitam itu meringis kesakitan.
“HABISI DIA, YOONGI, HOSEOK!.” Seokjin mendudukkan dirinya di sebuah kursi tua yang kusam, bersiap untuk melihat eksekusi mati dua orang di depannya.
DOOOR
Satu timah panas itu berhasil bersarang di dada kiri Taehyung. Jungkook melemas seketika melihatnya. Ingin ia berteriak untuk meminta tolong tapi suaranya seperti tercekat tepat di tenggorokan.
DOOOR
Satu lagi di paha kanan Taehyung. Air mata Jungkook kian deras dan ia hanya bisa menangis pasrah. Sedangkan Seokjin tertawa terbahak-bahak di sana bersama Namjoon dan Jimin.
DOOOR
Dan yang terakhir, berhasil menembus tempurung kepala Taehyung. Jungkook memejamkan matanya sejenak. Ini terlalu menyakitkan untuknya.
Tubuh Taehyung tersungkur lemah. Dan pemuda bersurai abu-abu itu tersenyum dengan bibirnya yang bergetar dan penuh darah.
“Selamat tinggal dunia.”
ANDWAE!”
“Sekarang giliranmu, bocah tengik.” Jungkook dapat melihat seringaian iblis di wajah putih Yoongi dan senyuman kemenangan di wajah Seokjin dan Hoseok.
“Jangan.” Jungkook tak dapat menahan isak tangisnya. Dan hanya keprasahanlah yang ia miliki.
DOOOR
ANDWAE!.”


To Be Continue
Hehehe…..^^ *ketawa evil ama BTS
Gimana readers tolong komentar, kritik, saran, masukan, pulsa, dan hadiah *eh!
Saya author sekaligus writer baru. Jadi tolong dukungannya ya????? Saya akan menceritakan sepenggal dari biodata saya kalau memeng ada yang pengen. hehehe
Buat yang bingung siapa sebenarnya Kim Se Hwa, di chapter-chapter depan bakalan sedikit demi sedikit dibahas kok…
Soal kenapa Seokjin my oppa itu dendam banget ama suami ane Taehyung juga bakal dibahas pelan-pelan…
Soal masa lalu Taehyung yang lebih rinci ntar juga bakal ada flashback2 buat jelasin gimana masa lalu Taehyung yang lebih jelas….
Nah untuk yang bingung siapakah ‘HYUNGIE’ sebenarnya…. Mohon ditahan dulu karena itu akan saya beritahu di chapter akhir….
HEHEHE *Nyengir bareng Chanyeol #ditabokpakebibirnyaBaekhyun
Sekian…. Terima kasih Jazakumullah….
KAMSAHAMNIDA
WASSALAMUALAIKUM WR WB….

OUR DICTIONARY
·         Ramyun           : mie ramen khas korea
·         Hyung             : panggilan adik laki-laki kepada kakak laki-laki
·         Tag name         : tanda pengenal
·         Won                : mata uang negara korea
·         Kimchi                        : makanan khas korea yang biasanya dibuat dari sayur yang dibaluri bumbu pedas lalu di fermentasi
·         Chap chai        : makanan chinese yang berisi sayur-mayur yang ditumis dengan berbagai bumbu
·         Noona                         : panggilan adik laki-laki kepada kakak perempuan
·         Busan adalah kota yang ada di pinggiran Korea Selatan, kota ini berbatasan langsung dengan laut. Kota ini juga dikenal dengan kota baseballnya Korea.
·         Saliva              : liur
·         Husky baritone: Husky (suara serak) baritone (suara berat), suara serak yang berat
·         Sundae            : Sup jerohan sapi
·         Bulgogi                       : daging panggang khas korea
·         Turbulensi       : keadaan tak stabil pada pesawat yang menyebabkan pesawat bergoyang, kadang hingga menyebabkan pesawat jatuh dan kehilangan kontak
·         Hoodie            : kupluk pada jaket sebagai penutup kepala


0 komentar:

Posting Komentar

▲Top▲