BUTTERFLY
FANFICTIONS - KOREAN FANFICTIONS
BETTER WITHOUT YOU
CHAPTER 1
Tittle
: Better Without You
Author : Kim Yeonhwa
Cast
:
·
Kim Taehyung as
Taehyung (BTS)
·
Jeon Jeong Guk as Jungkook (BTS)
·
And Other
Genre
: Friendship, brothership, family, school life, sad, hurt, tragedy, pshyco,
etc.
Lenght : Chaptered
Rate
: T
Disclaimer : It’s okay if you
want to plagiarize my fanfiction. Tapi dosa tanggung sendiri ya?
Warning : Jangan baca fanfiction ini sambil makan
okay? Bahasa sulit dimengerti, KATA KATA KASAR. Kalo ada typo tolong
dikantongin trus kasih saya. Don’t like don’t read, please. No bash. [Bikin ff
sendiri sana kalo bisanya cuma nge-bash!]
Recommendation songs : Baekhyun X K.Will – The Day, BTS – Hold Me
Tight
Summary :
Setiap aku akan terlelap, aku selalu berdoa pada Tuhan. Berharap saat aku
membuka mataku esok semuanya menjadi baik – baik saja dan akan terjadi hal yang
baik. Namun, saat esok hari aku membuka mataku, semua tetap sama bahkan lebih
buruk karenamu, bodoh.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
The
story begin....
“KAU INI BUTA ATAU BAGAIMANA?.
JELAS-JELAS PELANGGAN ITU ADA DI DEPANMU KENAPA KAU TAK BISA MELIHATNYA?.” Laki-laki
yang terlihat lebih tua menunjuk-nunjuk yang lebih muda dengan tidak sopannya.
Membuat pemuda tak bersalah di depannya itu menelan ludah berkali-kali.
“Maaf tuan. Saat itu pembelinya sangat
banyak jadi saya tidak bisa melihatnya”. Yang lebih muda mencoba mengelak
sambil menunduk. Namun malah mendapat tamparan keras di pipi kirinya yang putih
bersih. Ia mencoba sabar, ia mencoba mendongakkan wajahnya menatap laki-laki di
depannya yang sedang berkacak pinggang sambil menatapnya marah. Andai di dunia
ini tak ada yang namanya hukum, mungkin lelaki muda tadi sudah melayangkan
puluhan pukulan ke wajah bengis ‘bos
besarnya’ itu.
“Tapi tuan, pencuri itu hanya mengambil
sebungkus ramyun siap saji. Anda bisa
memotong gaji saya atau saya bisa menggantinya dengan uang seharga ramyun itu tuan.” Yang lebih muda
mencoba meyakinkan sambil mengelap darah di sudut bibirnya. Nyeri sekaligus bau
anyir darah sama-sama membuat emosinya tersulut kalau saja ia tak ingat kalau
dirinya hanyalah ‘bawahan’ yang
setiap hari hanya dibentak dan dihina seenak jidat ‘bos besar’nya.
“HALAH!
AKU TAK MAU TAHU!. SEBAGAI HUKUMANNYA KAU HARUS LEMBUR SAMPAI JAM EMPAT PAGI
ESOK!.” Laki-laki setengah baya itu menghembuskan nafasnya kasar setelah
memarahi pegawainya yang lalai tadi, berharap semua bebannya hilang bersamaan
dengan menguapnya karbondioksida sisa hasil pernafasannya.
“Bukannya itu jadwal tunggu Woohyun hyung tuan.” Pemuda bersurai abu-abu
itu mengamit kedua tangannya dan meremasnya keras, sebagai bentuk amarahnya
yang tak tersampaikan.
“SUDAHLAH. KAU TIDAK BISA MENGELAK CEPAT
KERJA SANA!.” Laki-laki bertubuh gempal itu membalikkan badan sambil mengumpat.
Atau lebih menjurus pada menggumamkan kata-kata kasar karena nyatanya pemuda
itu tidak bisa dengan jelas mendengar umpatan yang keluar dari mulut si bos.
“Ba-baik tuan.” Yang lebih tua lalu
meninggalkan yang lebih muda dengan acuh. Yang lebih muda lalu segera
melanjutkan pekerjaannya. Langit malam ini seakan ikut merasakan kesedihannya
karena mendung hadir di tengah musim panas seperti ini.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Kini waktu telah menunjukkan tengah
malam, namun laki-laki muda bernama Kim Taehyung itu masih saja bergelut dengan
pekerjaanya. Seharusnya ia sudah pulang tiga jam lalu, jam sembilan lalu
tepatnya. Namun apa daya tuan Shin Dong Hee yang menyebalkan itu menghukumnya
sampai jam empat pagi nanti.
KRING
Bel yang tergantung di atas pintu minimarket berbunyi pertanda seseorang
akan menghampirinya dan memberikan sejumlah uang padanya. Taehyung segera
kembali ke kasir dan bersiap menyapa di sana.
“Selamat datang, ada yang bisa saya
bantu?.” Tanya Taehyung ramah, begitu kontras dengan suasana hatinya yang kalut
bagaikan sebuah hujan badai berkecamuk di hatinya.
“Annyeong
haseyo. Dimana tempat soda dan makanan ringannya, Taehyung-ssi?.” Tanya pemuda berambut hitam
sambil mencoba membaca tag name
Taehyung.
“Oh, di sana di lorong nomor empat dekat
rak berwarna merah itu, tuan.” Jelas Taehyung sopan dan jelas.
“N-ne
terima kasih.” Pemuda itu tampak gugup saat tatapan mereka bertemu. Sejurus
kemudian, pemuda itu berjalan menuju tempat di mana tadi Taehyung
mengatakannya. Taehyung hanya bisa mengeriyitkan dahinya sambil menggaruk
belakang kepalanya yang tak gatal. Ada yang aneh pada pemuda itu, menurutnya.
Beberapa menit kemudian pemuda bersurai
gelap itu kembali dengan sekaleng soda rasa original dan tiga bungkus keripik
kentang dengan rasa berbeda. Dengan cekatan Taehyung menghitung harganya dan
mengemasnya dalam plastik berwarna putih.
“Lima ribu won tuan.” Taehyung menyerahkan belanjaan pemuda yang kelihatannya
lebih muda darinya itu. Pemuda itu menerimanya lalu merogoh sakunya dan
mengeluarkan dompet berwarna hitam. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang lalu
menyerahkannya pada Taehyung.
“Ne,
kamsahamnida.” Taehyung menerimanya lalu pemuda itu tersenyum padanya dan
masih membeku di tempat.
Pemuda itu memperhatikan wajah Taehyung
yang begitu tampan saat ini. Rambut abu-abu tua yang terkena sinar lampu,
beberapa surainya terlihat lepek karena keringat, hidung bangirnya, bibirnya
yang penuh, matanya yang tajam dan dipoles eyeliner,
kulitnya yang putih, telinga yang ditindik dan kaos putih tulangnya yang
terbalut jaket coklat yang tak di kancingkan hingga terlihat basah karena suhu
udara yang cukup ekstrim malam ini. Oh! lihatlah bahkan kini pemuda itu masih
menatap Taehyung tanpa berkedip sambil sedikit membuka mulutnya tanda kagum.
“Ehem.”
Taehyung berdehem mencoba mencoba menyadarkan pemuda di depannya dari lamunannya.
Dan pemuda itu tersentak lalu mencoba mengalihkan pandangannya.
“N-ne,
sama-sama.” Pemuda itu lalu pergi meninggalkan Taehyung yang masih merasa
aneh dengan tatapan pemuda tadi yang bisa dikatakan berbeda karena sekarang
Taehyung merasakan bulu kuduknya sudah berdiri.
“Aish,
mollayo.” Taehyung akhirnya menyerah dengan perdebatan batinnya mengenai
pemuda asing tadi. Ia lalu segera beranjak dari meja kasir dan berjalan menuju
rak ramyun yang belum sempat ia
bereskan tadi. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah foto yang
ada di lantai.
Ia memungutnya, dan sedikit
membersihkannya dari debu. Matanya kembali memanas dan ingatan masa lalunya
kembali terproyeksi di otaknya saat melihat foto itu. Pemuda tadi tampak
tersenyum bahagia sambil merangkul seorang anak laki-laki yang terlihat seperti adik pemuda itu karena wajah mereka yang
mirip. Mereka berdiri di belakang sebuah bangku yang diduduki sepasang suami
istri yang Taehyung yakini mereka adalah orang tuanya.
“Ayah,
ibu, Taehyung, Taehun. Ayo berfoto. Satu dua tiga!.”
“KIMCHI!.” /
“CHAP CHAI!.”
“YAK! Kim Taehyung. Bukan chap chai tapi kimchi!.”
“Aku
lebih suka chap chai dari pada kimchi, Taeri noona.”
“Terserahmu
sajalah!.”
“Hei! Hei!
Sudahlah! Sekarang ayo kita makan bersama. Ibu sudah membuatkan banyak makanan
untuk piknik kita kali ini. Ayo makan!.”
“Tentu
saja ibu. Taehun mau disuapi ibu!.”
“Hei!
Uri Taehun
senang sekali merajuk, eoh?. Membuat
ayah gemas saja.”
“Taehyung
juga mau disuapi, ayah.”
“Taeri
juga!.”
Taehyung menelan ludahnya susah payah.
Memori yang terproyeksi dengan sangat jelas itu menghujam telak jantungnya dan
meremas hatinya hingga kini luka lama itu kembali menganga, hanya kerena sebuah
ingatan sederhana bernama……
…
…
KELUARGA
Sebuah kata yang membuat Taehyung terseok-seok
apabila mengingatnya. Membuatnya menjadi seorang pecundang saat mengingatnya.
Membuatnya kembali menjadi sosok yang lemah…
KIM
TAEHYUNG YANG LEMAH KARENA KELUARGA
Ada rasa bahagia sekaligus sedih
bercampur saat melihat foto itu. Bahagia karena masih ada orang yang lebih
beruntung darinya dan sedih karena ingatan menyedihkan dan sialan menurut
Taehyung itu kembali berputar ulang di pikirannya.
KRING
Suara itu menginterupsi acara
–ingat-mengingat- Taehyung. Ia lalu segera menyapa orang itu. Kembali
meneguhkan hatinya dari fantasi dan ingatan liar yang sukses membuatnya bad mood seketika.
“Annyeong
hase- Eh ! Woohyun hyung, kenapa
bisa di sini?.” Taehyung tampak senang ketika melihat orang yang sudah
dianggapnya kakak sendiri itu datang sambil tersenyum. Dengan wajah berbinar ia
menghampiri sosok yang dipanggilnya Woohyun hyung
itu. “Bagaimana kalau tuan Shin tahu?.” Pertanyaan berubi – tubi dari Taehyung
hanya dijawab dengan senyuman oleh Woohyun.
“Tenang saja. Masalah itu aku sudah
mengurusnya dengan tuan Shin. Kau bisa pulang sekarang. Lagi pula kau nanti
pagi harus sekolah, kan?.” Yang lebih
muda tampak senang saat yang lebih tua selesai menjelaskan. Ada kelegaan yang
menyusup di hati Taehyung. Ada kehangatan di sana, membuat segala masalah yang mendera
hatinya perlahan menghilang.
“Wah,
terima kasih hyung.” Taehyung
tersenyum bahagia menampakkan rectangle
smilenya yang menawan. Woohyun hanya bisa maklum jika juniornya itu sangat senang saat ini. Karena memang bukan perkara
mudah untuk melepaskan hukuman yang telah diberikan tuang Shin Dong yang sangat
menyebalkan itu pada para pegawai lalai di minimarketnya.
“Eh,
itu apa Tae?.” Woohyun tampak penasaran dengan apa yang dipegang Taehyung.
Sedangkan Taehyung menatap kembali kertas cetak bertinta di tangannya.
“Oh ini foto pembeli yang terjatuh tadi.
Aku akan mengembalikannya hyung. Tenang saja. Ya sudah ya hyung aku pulang dulu.” Taehyung lalu segera mengambil tasnya yang
ada di ruang karyawan dan tak sampai hitungan menit ia kembali menghampiri
Woohyun yang masih ada di depan meja kasir.
“Aku pulang ya hyung.” Taehyung berlari pulang sambil terus tersenyum. Membuat
Woohyun sedikit tertegun dengan perubahan sifat Taehyung yang amat drastis.
Teruslah
tersenyum seperti itu, adikku. Agar kau bisa mengatasi rasa sakit itu dengan
senyuman tulusmu.
“Ne,
hati-hati.” Salahkan Taehyung yang secepat kilat sampai-sampai Woohyun baru
menjawab salamnya.
Mungkin beberapa orang mempertanyakan
latar belakang Woohyun yang ditutup-tutupi. Karena jawabannya adalah sebenarnya
Woohyun terlahir di keluarga yang bisa dibilang berada, namun ia ingin mandiri
untuk membiayai kuliahnya. Dan ia meninggalkan keluarganya di Jepang hanya
untuk mencari pengalaman di negri yang tak jauh-jauh juga.
Ia hanya ingin mencari pengalaman hidup
di Korea.
Ya. Pengalaman hidup.
Pengalaman hidup yang ia dapat saat ia
bertemu dengan seseorang yang tersenyum dalam rasa sakitnya……
…..
RASA SAKIT YANG MENDERA…
…
…
KIM
TAEHYUNG
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Taehyung keluar dari rumahnya yang
sederhana itu dengan tergesa-gesa lalu berlari menuju halte bus terdekat.
Pasalnya kini waktu telah menunjukkan pukul 07.20, berarti sepuluh menit lagi
kelas dimulai. Ia akan kena murka guru ‘tersayang’nya
itu kalau ketahuan terlambat datang ke kelasnya yang bagai ‘surga’ itu.
Salahkan saja jam wakernya yang sudah rusak sejak kemarin itu atau salahkan ponselnya
yang belum sempat ia isi dayanya. Jangan lupa salahkan tuan Shin- ah tidak itu semua memang salahnya.
Salahkan saja dirinya yang memang sebatang kara kalau saja Cho seongsae menghukumnya karena terlambat
nanti. Seandainya ia masih bersama keluarganya, pasti ibunya akan
membangunkannya agar tak terlambat ke sekolah setelah itu ia akan disambut
ayah, ibu, kakak perempuan dan adik laki-lakinya di meja makan dan-
“HEI!
nak! Kau mau naik tidak ?.” Teriakkan sopir bus itu menghentikan Taehyung
dengan acara -mari berandai -andai- nya.
“Ah
ne.” Taehyung lalu naik bus menuju sekolahnya. Tak sampai lima menit, bus
berwarna putih itu sudah tiba di sekolahnya. Sedikit tergesa saat ia keluar
dari kendaraan umum itu hingga ia menabrak seorang wanita paruh baya yang ia
hafal bahwa itu adalah….
GURU PALING ‘BERHATI MULIA’ DI SEKOLAH
Memangnya siapa lagi kalau bukan….
HWANG
SE HWA!
GURU
BP YANG AKAN ‘MEMBELAI’ MURID-MURID
NAKAL DI SEKOLAHNYA
“Mianhamnida,
seongsaenim.” Taehyung membungkuk berkali-kali untuk meluluhkan hati ‘ibu’ bagi anak-anak nakal di sekolahnya
itu.
“Oh, tak apa-apa, Taehyung-ah. Aku yang harusnya minta maaf karena
berdiri di tengah jalan. Maaf ya.” Guru dengan rambut digelung itu menyentuh
pundak Taehyung lalu tersenyum ramah.
Perlu
diabadikan, hal paling langka dalam sejarah-
Batin Taehyung.
“Eum,
bukankah sebentar lagi bel masuk?. Cepatlah ke kelas, Taehyung-ah. Kau tak mau kena marah Cho seongsae, kan?.” Taehyung menelan
ludahnya yang sekeras karang.
Bagaimana
ia tahu kalau jam pertama adalah jadwal Cho seongsae?
Kenapa
ia hafal sekali?
Bahkan
guru ini lebih menyeramkan saat bersifat ramah.
Taehyung bergidik ngeri. Lalu
berpamitan, “Saya permisi dulu, Hwang seongsae.”
Dan Taehyung akhirnya melesat menuju kelasnya setelah melihat wanita berkulit
putih itu mengangguk sambil tersenyum.
Kenapa
kalian berdua sekarang tidak bisa akur setelah kejadian itu, Taehyung-ah?
Kenapa
kau harus menganggapku sebagai orang asing, nak?
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
BRAK
Taehyung membuka pintu dengan keras
sehingga membuat beberapa siswa menatapnya. Untung saja seongsaenim belum datang. Ia menghela nafas lega lalu duduk ke
bangkunya yang ada di pojok dekat jendela. Tak lama kemudian Cho Kyuhyun seongsaenim tampak masuk ke kelas
diikuti seorang siswa tampan berambut hitam.
“Selamat pagi semuanya. Hari ini kelas
ini kedatangan seorang siswa baru dari Seoul International Junior High School. Ia siswa akselerasi, umurnya dua
tahun lebih muda dari kalian. Jadi mohon bantuan dan bimbingannya. Nah, sekarang tolong perkenalkan
dirimu.” Ocehan panjang lebar guru bermarga Cho itu tak digubris Taehyung
karena kini ia tengah menatap luar jendela sambil memutar kembali
kejadian-kejadian lampau yang membuatnya kini tak dapat mempercayai satu orang
pun di muka bumi ini.
“Hah...”
Ia menghela nafas panjang sambil menegakkan duduknya.
“Permisi. Aku mau duduk di sini. Tolong
singkirkan tasmu, Taehyung-ssi.”
Pinta seseorang yang membuyarkan lamunan Taehyung seketika. Pemuda itu sangat
familiar di pikiran Taehyung. Ia adalah…
“Eh
kau?!.”
“Cho seongsae
tadi menyuruhku duduk di sini karena hanya di sini yang kosong, Taehyung-ssi.” Jelasnya sambil tersenyum ramah
pada Taehyung. Dan tanpa babibu Taehyung
lalu segera menyingkirkan tasnya yang sebelumnya ia taruh di kursi sampingnya
menjadi di laci.
“Hai.
Aku Jeon Jeong Guk, tapi kau bisa memanggilku Jungkook. Aku tinggal di dekat
sungai Han, kau bisa mampir jika lewat sana, Taehyung-ssi.” Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya pada Taehyung sambil
tersenyum dan syukurlah Taehyung membalasnya walau ia tak ikut tersenyum. “Dan
yang kemarin itu juga aku.” Lanjutnya.
“Tunggu sebentar.” Taehyung lalu
mengeluarkan sebuah foto dari saku jas sekolahnya. “Apa ini milikmu?.” Tanya
Taehyung sambil menyerahkan foto itu pada Jungkook, pemuda asing yang tanpa
sengaja merobek luka yang telah ia coba rekatkan kembali setelah bertahun-tahun
hanya dengan sebuah foto yang tak sengaja pemuda bersurai hitam itu jatuhkan
kemarin.
“WAH,
KAMSAHAMNIDA, TAEHYUNG-SSI!.”
Jungkook berucap dengan cukup heboh membuat keributan tersendiri dalam kelas
itu. Semua pasang mata menatap mereka dengan tatapan benci, terutama untuk
Taehyung yang notabene tak melakukan apa-apa.
“KIM TAEHYUNG! JEON JEONG GUK! KELUAR
DARI SINI SEKARANG JUGA! KALIAN MENGGANGGU PELAJARAN!” Murka Cho Kyuhyun seongsae. Taehyung lalu segera keluar
kelas dengan langkah santainya diikuti Jungkook dibelakangnya yang menunduk
takut.
“Lalu kalian harus berdiri di depan
tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai!.”
SHIT!
Lanjut Cho seongsae sebelum Taehyung memutar kenop pintu dengan malas.
Sedangkan Jungkook segera menatap gurunya itu, mencoba membujuknya agar hari
pertamanya di sekolah ini tak berbau hukuman, namun sang guru malah acuh dan
segera melanjutkan pelajaran.
“Kau mau di sini sampai kapan?” Tanya
Taehyung ketus. Jungkook lalu segera mengekori Taehyung yang tampak kesal pada
gurunya.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
30 menit kemudian
Taehyung tampak mulai kelelahan, karena
kini keringatnya mulai bercucuran di sekitar pelipisnya, nafasnya sedikit
berat, dan jangan lupakan jika kini kepalanya terasa seperti di tindih dengan
batu besar yang tak kasat mata. Bertolak belakang dengan Jungkook, bocah itu kini
malah tersenyum-senyum sendiri sambil menatap foto keluarganya. Dan ia mulai
berceloteh saat merasa Taehyung menatapnya.
“Kau tahu. Aku sangat rindu keluargaku
di Busan. Sudah 3 tahun sejak aku kelas VII Junior
High School aku tak bertemu dengan mereka. Adikku sekarang sudah kelas VII Junior High School, dia satu tahun lebih
muda dariku. Dulu saat aku masih di Busan, setiap sore pasti aku selalu pergi
bermain ke dermaga bersama adikku. Sepulang bermain, biasanya ibu akan
memasakkan makanan kesukaan kami dan malamnya ayah akan mengajak kami ke taman
bermain. Ayahku bekerja sebagai pelatih baseball
profesional dan ibuku mempunyai kafe keluarga yang cukup besar di sana. Saat
anak asuhan ayah menang dalam sebuah pertandingan pasti mereka akan
merayakannya di kafe ibuku. Kadang-kadang saat akhir pekan ayahku juga mengajak
kami berjalan-jalan mengintari Busan, lalu pergi ke rumah nenek setelah itu
kami akan makan malam bersama di kafe ibu.” Jungkook selesai berucap. Dan
seketika membuat hati Taehyung mencelos. Kenapa Jungkook harus menceritakan hal
yang menurutnya menyakitkan itu padanya?
“Kenapa?.” Taehyung bertanya tanpa
menoleh sedikit pun pada Jungkook yang ada di kirinya. Dadanya serasa dihimpit
sekat tak terlihat yang membuatnya kesakitan. Dengan lemah Taehyung menyentuh
dada kirinya, yang terasa nyeri bukan main.
“Ne?.”
“Kenapa kau sangat percaya padaku sampai
menceritakan semua tentangmu padahal kau baru bertemu denganku tadi malam?.”
Tanya Taehyung sekali lagi sambil menatap mata Jungkook tajam. Jungkook menelan
salivanya kasar lalu tersenyum kikuk
dan mengalihkan pandangannya. Ia mengalihkan pandangannya dari pandangan
Taehyung, yang seakan mengulitinya hidup-hidup dengan pandangan itu. Pandangan
yang mengitimidasi, tampak mencekam, dan membuat siapa pun yang menatapnya akan
gemetar tanpa pikir panjang.
“Karena aku pikir kau orang yang tepat,
Taehyung-ssi.” Itu jawaban yang
keluar begitu saja dari mulut Jungkook. Karena ia juga tak tahu mengapa ia
menceritakan semuanya kepada seseorang asing yang sama sekali belum ia kenal.
Seseorang yang telah menyedotnya ke dalam lubang hitam dari tatapan matanya
yang mematikan, membuat Jungkook tak dapat memahami apa yang ada di pikiran
orang yang ada di sampingnya itu, hingga tanpa sadar ia telah mengatakan semua
tentangnya pada Taehyung,
ORANG
YANG BAHKAN BELUM SAMPAI DUA PULUH EMPAT JAM IA KENAL
“Kalau begitu bolehkah aku
mempercayaimu?.” Yang lebih tua mencoba untuk menguatkan hatinya sambil menahan
air matanya. Menguatkan hatinya yang sudah tercabik-cabik bertahun-tahun yang
lalu. Dan kini berakhir dengan hatinya yang telah rusak, rapuh, koyak bahkan
membusuk karena ingatan sialan yang menjalar di pikirannya setiap harinya.
“Kenapa?.” Tanpa sadar Jungkook bertanya
sama seperti Taehyung tadi. Karena entah mengapa Taehyung seperti
menghipnotisnya dengan tatapan sendu tapi mencekam dari kedua bola mata
Taehyung.
“Karena aku pikir kau orang yang tepat.”
Taehyung pun menjawab sama persis dengan jawaban Jungkook padanya. “Dan karena
kau satu-satunya orang yang mendekatiku disaat orang lain berlomba-lomba
menjauhiku.” Taehyung jujur, karena kenyataanya memang seperti itu.
“Tentu saja. Kau bisa mempercayaiku,
Taehyung-ssi.” Taehyung menghela
nafas panjang lalu mulai bercerita. Dan Jungkook mendengarkannya dengan seksama.
“Ayahku adalah salah satu pengusaha
terkaya di Seoul. Ibuku memiliki restaurant
Eropa yang sangat terkenal di Seoul. Aku mempunyai seorang kakak perempuan
dan adik laki-laki. Saat aku masih berada di kelas lima Elementary School, kami berlima pergi ke Eropa untuk mempelajari
makanan Eropa, terutama ibuku. Semenjak saat itulah aku sangat suka makanan
Eropa.”
Jungkook memutar bola matanya malas.
Jadi, Taehyung hanya ingin memamerkan kekayaanya padanya yang hanya seorang
anak pelatih baseball dengan klub
kecil di Busan?. Namun, saat Taehyung meneruskan ucapannya hatinya terasa
terkoyak. Ingin rasanya ia menangis, tapi ia harus kuat. Karena Taehyung pun
sama sekali tak menangis saat menceritakan masa lalunya. Masa lalu yang
Jungkook yakini bahwa Taehyung tak akan pernah melupakannya hingga akhir
hayatnya.
“Tapi sekarang aku sangat membenci
makanan Eropa. Benar- benar membencinya. Ingin tahu kenapa?. Saat itu hari
Minggu, beberapa minggu sebelum natal
tepatnya. Aku masih di kelas lima Elementary
School tingkat akhir, setelah kami berlibur ke Eropa. Aku sedang belajar
memasak bersama ibu dan kedua saudaraku. Hari itu ayahku masih bekerja, lembur
katanya. Kami berempat sangat bahagia saat itu, sampai tuan Kang, orang
kepercayaan ayahku datang. Ia bilang kalau polisi menangkap ayahku atas dugaan
korupsi dan penyuapan perusahaan asing.”
Jungkook mulai gemetaran saat mendengar sepenggal cerita Taehyung,
hingga pemuda itu melanjutkan cerita menyakitkannya.
“Saat ayah ditangkap, tuan Kang bilang
kalau ayahku sedang melakukan sex
bersama selingkuhannya yang bernama Hyorin itu di sebuah hotel. Ibuku murka, ia
lalu segera pergi ke kantor polisi dan menyumpah serapahi gadis jalang itu.
Setelah satu minggu penyelidikkan, pengadilan menyatakan bahwa ayahku bersalah
ia diberi hukuman penjara seumur hidup, selain itu semua kekayaanya juga
ditarik tak terkecuali dengan rumah yang kami tinggali. Setelah itu ibuku pergi
dari rumah bersama adikku.
Tiga hari kemudian aku dan kakakku
mendengar kalau ibuku membunuh adikku lalu memutilasinya dan membuangnya ke
sungai Han dalam keadaan semua anggota tubuhnya terpotong-potong seukuran dadu
dan ditemukan dalam sebuah kantong plastik yang berukuran cukup besar. Malamnya
saat ibuku menjadi buronan polisi, ia melarikan diri ke sebuah kebun binatang
dan menceburkan dirinya ke sebuah kolam penangkaran buaya. Kau tahu kan bagaimana wujud manusia yang dimakan
beratus-ratus ekor buaya yang puasa?. Keesokan harinya saat polisi menemukan
sisa-sisa tulang ibuku, mereka menemukan sebuah surat yang terjatuh di
penangkaran buaya yang berisi bahwa ibuku sangat sadar saat melakukan mutilasi
pada adikku bahkan ia memakan beberapa potong anggota tubuh adikku, selain itu
ibuku juga meminta pada polisi untuk tidak memberitakan semua tentang keluarga
kami.” Hampir saja Jungkook memuntahkan semua sarapannya kalau saja Taehyung
tak menatapnya dengan tatapan mencekam yang membuat Jungkook lupa akan rasa
mualnya.
“Sehari setelahnya, kakakku pergi
meninggalkanku juga. Dan seminggu kemudian mayat kakakku ditemukan di sebuah
kamar di bar. Setelah di visum,
polisi bilang kalau kakakku telah melakukan sex
dengan lebih dari seratus orang dalam kurun waktu seminggu hingga membuat
rahimnya mengalami infeksi dan akhirnya ia meninggal setelah melakukan sex dan kau tahu? Ia melakukan sex terakhirnya bersama Tuan Kang. Tuan
Kang yang kami percayai, ternyata sama brengseknya dengan ayahku. Dan setelah
itu Tuan Kang dihukum mati karena ia juga sengaja memberi minum kakakku dengan
sebuah cairan yang membuat infeksinya kian menyebar.
Setelah itu aku mendengar ayahku sakit
parah di penjara namun pihak polisi tak mengetahuinya, hingga ayah memutus urat
nadinya sendiri dengan menusukkan garpu ke pergelangan tangannya. Kejadian
tersebut tak diketahui siapa pun hingga tiga hari berikutnya mayat ayahku
ditemukan sudah membusuk di penjara. Dan hari itu juga, pukul 12 siang tepat
satu hari sebelum hari natal, polisi menunjukkan mayat keempatnya padaku.
Adikku yang sudah terpotong-potong, ibuku yang tinggal tulang belulang, kakakku
yang di daerah vitalnya membusuk, dan
ayahku yang seluruh tubuhnya membusuk dan pergelangan tanganya yang digerogoti
belatung. Aku berharap saat itu juga aku terkena serangan jantung dan ikut mati
menyusul mereka. Tapi Tuhan berkata lain hingga sampai sekarang aku masih
hidup.” Taehyung menghela nafas berat sambil memilin ujung kemejanya.
“Setelah melihat kondisi keempatnya aku
segera berlari ke rumah nenek. Tapi sampai di rumah nenek, nenek mengusirku dan
berkata bahwa aku adalah anak tak berguna, pembawa sial, dan sebagainya. Aku
lalu kembali ke kantor polisi dan meminta pada pihak polisi untuk merahasiakan
semua tentang keluargaku kepada media. Aku sempat bersujud di depan para polisi
hanya untuk meminta itu, dan akhirnya mereka semua setuju. Maka dari itu tak
ada seorang pun yang tahu kecuali aku, para polisi yang menyelidiki kasus
keluargaku, Woohyun hyung dan kau.
Dan setelah keluar dari kantor polisi, aku tak tahu harus kemana lagi, aku
duduk di bawah pohon natal dan melihat lalu lalang orang yang sedang berbahagia
merayakan natal bersama keluarga mereka, hingga aku tertidur di sana dalam
keadaan hujan salju.
Keesokan harinya, aku terbangun. Tubuhku
serasa beku. Aku tak bisa bicara maupun berdiri. Hanya bisa menangis dalam
diam. Hingga seseorang menemukanku, ia membawaku pulang. Ia adalah Nam Woohyun,
orang yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Keluarganya tinggal di
Jepang. Ia membantuku mengurus semuanya. Ia mencarikanku tempat tinggal,
beasiswa dan pekerjaan. Aku bekerja di minimarket
itu sudah sekitar lima tahun, untuk menghidupi diriku sendiri dan untuk
sekolah. Aku sangat berterima kasih pada Woohyun hyung. Ia sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Setelah
kejadian itu aku berjanji tak akan pernah mempercayai siapa pun, kecuali
Woohyun hyung. Aku trauma, bahkan
sangat takut untuk mempercayai seseorang. Cukup kejadian itu menjadi pelajaran
padaku untuk tidak mempercayai siapa pun, karena setiap orang yang aku percayai
pasti akan pergi meninggalkanku. Adik, ibu, kakak, ayah, nenek, tuan Kang,
cukup mereka saja yang meninggalkanku dan mengkhianatiku. Aku tak ingin Woohyun
hyung bahkan kau, kalian yang aku
percayai meninggalkanku.
Dan jangan lupakan bahwa sekarang aku-.”
“Kau apa?.” Jungkook mencoba bertanya
dalam tangisnya dengan suara serak. Ya, pertahanannya runtuh mendengar semua
cerita Taehyung. Berbalik 180 derajat dengan Taehyung yang tampak tenang.
“Aku-.”
TES
SHIT!
Darah segar menetes dari hidung bangir
Taehyung.
BRUK
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
“Mengidap kanker darah stadium akhir.”
DEG
Kalimat yang pendek namun benar-benar
bisa menohok hati Jungkook. Dokter itu lalu keluar dari kamar rawat Taehyung.
Ya, kini mereka berdua kini berada di rumah sakit. Jungkook membawanya ke sini
setelah Taehyung pingsan dan mimisan. Sebenarnya pihak sekolah mengajukan diri
untuk mengurus Taehyung, namun Jungkook menolaknya. Dengan alasan tak logis,
bahwa ia akan bertanggung jawab karena ini ulahnya karena ia yang mengacau di
kelas dan Taehyung terkena imbasnya.
Jungkook kini duduk di kursi di salah
satu sisi ranjang Taehyung. Ia menggenggam tangan Taehyung dan menangis dalam
diam. Menangisi penderitaan orang lain yang kian mengusik hati Jungkook dan
seakan penderitaan Taehyung ikut membuat sisi hatinya terkoyak dan meneteskan
darah. Hingga suara seseorang menginterupsinya.
“Apa yang kau lakukan, bocah?. Apa kau
menangis?.” Itu suara Taehyung. Suara husky
baritone yang Jungkook mulai hafal walau kini suara itu sangat terdengar
serak dan lemah di telinga Jungkook. Jungkook segera membantu Taehyung untuk
duduk. Dan dengan tatapan sayunya, Taehyung menarik segaris senyum yang
Jungkook tak mengerti artinya.
“Aku akan mengatakan sesuatu padamu.
Tapi jika kau mendengarnya kau tak boleh marah, okay?.” Jungkook menyeka air matanya lalu menghela nafasnya,
mencoba menguatkan hatinya untuk Taehyung. Karena Taehyung begitu kuat, walau
cobaan selalu menghampirinya dan menawarinya dengan sebuah kata manis namun
sarat dengan kehancuran…
MENYERAH
Kata yang kian singkat tapi penuh akan
tangis di dalamnya. Tapi Taehyung tak menyerah hingga kini, karena Jungkook
tahu masih ada harapan besar di balik sikap Taehyung.
“Kau mengidap kanker darah stadium akhir.” Dan air mata Jungkook
kembali menetes, namun Taehyung malah tersenyum dan memeluk Jungkook. Pelukan
yang sarat akan makna dan kasih sayang.
“Aku sudah tahu, bodoh.” Kalimat yang
sungguh sederhana namun membuat hati Jungkook kian mencelos. Ia membalas
pelukan Taehyung dan menangis sejadi-jadinya di sana. Sedangkan Taehyung
lagi-lagi hanya menarik seulas senyum, senyum yang hanya Taehyung sendiri yang
tahu artinya.
“Maka dari itu jangan khianati dan
tinggalkan aku, bocah. Berhentilah menangis.” Yang lebih tua mencoba
menepuk-nepuk punggung yang lebih muda agar berhenti menangis. Yang lebih muda
mendongak lalu mengangguk.
“Ne,
aku takkan menghianati bahkan meninggalkanmu, Tae.” Jungkook menghapus air
matanya, karena ia tak ingin terlihat cengeng di mata Taehyung.
“TAE? APA ITU? YAK! KAU HARUSNYA
MEMANGGILKU HYUNG. DASAR!” Taehyung
mencela Jungkook yang memanggilnya seenaknya sambil melepaskan pelukannya pada
pemuda bersurai hitam itu.
KLEK
“Ehem!
Wah, sepertinya uri Tae sudah punya teman baru.” Seseorang yang baru saja membuka
pintu putih rumah sakit itu tersenyum hangat. Ia adalah Woohyun, ‘kakak’ Taehyung yang sangat berjasa bagi
Taehyung. Woohyun tanpa sadar menghentikan pertengkaran kecil Jungkook dan
Taehyung. Ia lalu meletakkan sekeranjang kecil buah-buahan di meja nakas
samping ranjang Taehyung.
“Hyung!.”
Taehyung tampak senang melihat Woohyun datang. Woohyun lalu memilih duduk di
sofa yang disediakan pihak rumah sakit. Jungkook menatap Woohyun lalu
mendekatinya sambil mencoba memberikan senyum hangat untuk Woohyun.
“Annyeonghaseyo
Jeon Jeong Guk imnida. Tapi kau bisa
memanggilku Jungkook. Tae hyung tadi
menceritakan tentangmu, Woohyun hyung.
Senang berkenalan denganmu.” Jungkook membungkuk hormat pada Woohyun lalu
bersalaman dengannya.
“Aku juga senang bertemu denganmu
Jungkook.” Woohyun menyambut Jungkook dengan ramah dan hangat. Woohyun lau
duduk di sisi ranjang Taehyung yang berlainan sisi dengan tempat duduk Jungkook
sebelumnya. Jungkook mengikuti Woohyun, lalu duduk di tempat duduknya
sebelumnya.
“Jungkook-ssi.” Panggil Woohyun. Jungkook dan Taehyung menoleh ke arahnya.
“Ne,
hyung.”
“Sudah berapa lama kau mengenal
Taehyung?.” Wajah Woohyun nampak serius namun senyum menawan tak luput di
wajahnya. Jungkook pun menceritakan kejadiannya bertemu dengan Taehyung hingga
saat ini. Dari awal mereka bertemu di minimarket
hingga kejadian Taehyung pingsan tadi pagi.
“Apa Taehyung pernah memelototimu?. Ah, tidak sepertinya Taehyung hanya
melakukannya denganku?. Hati-hati, Jungkook-ssi
Taehyung akan menjadi seperti orang autis kalau kau sudah dekat dengannya. Ah, aku juga ingat, ia sangat jahil,
Jungkook-ssi. Jadi mungkin jika kau
sudah berteman dengannya kau akan terkena darah tinggi atau kau akan lelah
sendiri menangani perilakunya.” Penjelasan panjang lebar Woohyun akhirnya
mendapat bayaran yang setimpal terbukti dengan bantal rumah sakit yang kini
mendarat di wajahnya akibat perbuatan
Taehyung.
“Yak!,
hyung jangan membicarakan keburukanku, memalukan sekali.” Woohyun hanya
tersenyum senang melihat sifat asli Taehyung yang cerewet keluar. Sifat asli
Taehyung yang Jungkook yakin pasti semua orang tak akan berpaling bila
mengetahuinya.
“Tapi itu semua benar kan Tae?.” Woohyun menaik turunkan
alisnya membuat Taehyung mendengus sebal dan Jungkook terkekeh geli.
“Yak
hyung tapi tak perlu membicarakannya sekarang, aish!.” Jungkook yang melihat perang mulut dua orang yang belum
lama dikenalnya itu hanya bisa menggeleng sambil terkekeh pelan. Ikatan batin
di antara keduanya sangat erat, begitulah pikir Jungkook. Woohyun yang hangat dan
perhatian juga Taehyung yang cerewet dan aneh, sangat pas bila ingin membuat
kekacauan.
KLEK
“Annyeonghaseyo
Kim Taehyung-ssi. Kami akan memeriksa
kesehatan anda. Tolong walinya menunggu di luar.” Jelas dokter bertag name Choi Seunghyun dengan ramah.
Woohyun memberi kode pada Jungkook lalu mengusap puncak kepala Taehyung dan
akhirnya keluar bersama Jungkook. Meninggalkan Taehyung bersama seorang dokter
tampan dan dua perawatnya.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Dua orang namja berjalan beriringan menuju taman belakang sebuah rumah sakit.
Yang lebih tua duduk di sebuah bangku di sana, lalu disusul yang lebih muda.
“Hyung.
Ada yang ingin aku bicarakan.” Yang lebih muda angkat bicara lalu menunduk.
Menahan segala bentuk kekecewaan dan keresahan yang telah mengusik hatinya dan
juga pikirannya.
“Tae hyung
dia mengidap-”
“Kanker darah stadium akhir, kan?. Aku
sudah tahu, Jungkook-ssi.” Woohyun
menatap lurus pada hamparan rerumputan dan bunga yang ada di hadapan mereka.
Jungkook tak mengerti, apa arti semua ini. Tanpa sadar air matanya kembali
jatuh untuk orang yang sama. Bahkan seakan Woohyun yang notabene mengenal
Taehyung lebih lama pun malah terlihat mengikhlaskan ‘adik’nya itu.
“Kenapa?.” Suara Jungkook bergetar,
segerombol air mata mulai membasahi wajah tampannya. Dan ia menahan isakannya,
yang bahkan ia sendiri sama sekali tak menginginkan untuk mendengar isakannya.
“Dua bulan lalu, tepatnya tanggal 30
Maret saat aku mengantarkan makanan ke rumahnya aku menemukan surat diagnosa
dari dokter kalau ia mengidap kanker darah stadium akhir. Saat itu aku juga
sangat terkejut, bahkan ia tak memberitahuku sedikit pun. Aku lalu segera menghubungi
dokter yang menangani Taehyung dan dokter itu bilang kalau Taehyung tak mau
diobati dan usianya tinggal sekitar 6 bulan lagi. Ia ingin menjalani sisa
hidupnya tanpa seorang pun yang tahu kalau ia sakit.” Woohyun tak menjawab
pertanyaan Jungkook yang masih bingung. Ia justru menjelaskan hal lain pada
pemuda yang jauh lebih muda itu tanpa menatapnya sedikit pun.
“Tapi kenapa ia masih terlihat sangat
sehat, maksudku kenapa rambutnya tidak rontok atau mungkin keadaanya semakin
lemah?. Kenapa hyung?.” Jungkook
mulai terisak dan Woohyun mulai meneteskan air matanya. Pertahanan keduanya
runtuh hanya karena memikirkan seorang yang sama,
KIM
TAEHYUNG
“Itu semua faktor keturunan. Saat
ayahnya dipenjara sebenarnya ayahnya juga mengidap penyakit kanker darah saat
itu. Saat itu ayahnya juga terlihat sangat sehat, rambutnya tak rontok dan
keadaanya tak melemah. Jadi tak ada yang tahu kalau sebenarnya ia sedang
sakit.” Woohyun berucap sambil menguatkan hati. Bukan perkara mudah untuk
berusaha tegar saat ini. Ia menelan udahnya yang sekeras karang. Bahkan orang
yang ia sayangi pun harus dipermainkan takdir saat ini.
“Kenapa harus dia, hyung?!. Bahkan masa lalunya terlalu menyakitkan untuknya. KENAPA
HARUS DIA, HYUNG?!.” Jungkook semakin
terisak dan histeris membuat air mata Woohyun kian deras.
“Tenanglah, Jungkook. SEMUA TAK AKAN
BERUBAH JIKA KAU MENANGIS DARAH SEKALI PUN!” Amarah Woohyun sudah memuncak dan
ia sudah pada fase limitnya. Fase
dimana ia sudah menyerah untuk berpura-pura menjadi orang yang sok tegar.
“Sebenarnya aku punya beberapa
permintaan untukmu.” Yang lebih tua kini menatap yang lebih muda dengan tajam.
Berusaha berpikir jernih di kala air mata membasahi wajah dan mencoba kuat saat
hati telah terkoyak.
“Katakan, hyung.” Jungkook menghapus air matanya. Ya, ia akui kalau perkataan
Woohyun memang benar, bahwa…
SEMUA
TAK AKAN BERUBAH JIKA KAU MENANGIS DARAH SEKALI PUN
“Aku akan pindah ke Jepang untuk
mengurus bisnis orang tuaku yang sudah pensiun besok. Aku mohon padamu untuk
menjaganya, merawatnya, dan mendampinginya dalam keadaan apa pun. Jangan sampai
ia kesepian dan sendiri. Temani dia. Dan juga aku meninggalkan tabunganku
untuknya. Dengan terpaksa aku harus meninggalkannya, satu-satunya orang asing
yang aku anggap adikku. Jika aku bisa memilih mungkin aku akan memilih untuk
menemaninya melewati hari-hari terakhirnya, tapi sayangnya aku tak bisa.
Aku mohon, Jungkook. Jangan kecewakan
dia, karena walaupun sangat tegar dan terlihat tak terlalu peduli pada apa pun,
sebenarnya ia sangat rapuh dan mudah menyerah. Maka dari itu jaga dia untukku.
Jaga adikku.” Woohyun menggenggam tangan Jungkook sambil terus meyakinkannya.
“Ne,
hyung.” Jawaban yang begitu singkat namun dapat membuat hati seorang Nam
Woohyun menjadi lega kembali. Ada setitik harapan kecil di sana, di sebuah
lorong tanpa cahaya yang pengap tanpa udara.
“Gumawo,
saeng.” Woohyun memeluk Jungkook dengan hangat tanda terima kasih. Tanpa
mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan penuh tanda tanya dari salah
satu kamar rawat rumah sakit.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
“Yak!
Kau tidak sekolah, eoh?.” Seseorang
berpakaian baju pasien rumah sakit tampak mengguncangkan tubuh seorang pemuda
bersurai gelap yang kini tengah terlelap di sofa. Orang itu lalu menendang
pemuda itu hingga tersungkur ke lantai dengan tidak etisnya.
“Arrgghh,
sakit.” Jungkook mengusap punggungnya yang terbentur lantai. Hadiah dari
Taehyung pagi ini memang tak main-main.
“Oh, mian.
Gwenchanha?.” Orang tadi ikut mengusap punggung Jungkook dan memasang wajah
yang terlihat khawatir. Sedangkan Jungkook sedikit memanfaatkan kesempatan itu.
“Sakit, arrghhh...” Jungkook masih saja memegangi punggungnya sambil terus
mengaduh kesakitan. Sedangkan Taehyung merasa bersalah ia mencoba membantu
Jungkook untuk bangun dan terus mengucapkan kata maaf.
KLEK
“Eh,
Woohyun hyung?. Kenapa pagi- pagi
sudah kemari?. Apa hyung tidak
bekerja?. Apa hyung tidak kuliah?.
Kenapa berpakaian rapi sekali?. Sejak kapan kau punya baju berwarna putih hyung?. Kenapa tertawa?.” Taehyung
bertanya dengan polosnya tak memikirkan bagaimana Woohyun menjawab pertanyan sebanyak
dan secepat itu. Ia menghentikan acara –mari mengusap punggung Jungkook yang
sakit karena ia tendang- sesaat.
“Silahkan duduk hyung.” Jungkook mempersilahkan Woohyun untuk duduk di sofa.
Woohyun lalu duduk di sofa diikuti Jungkook yang duduk di sampingnya dan
Taehyung yang duduk di depannya.
“Sebenarnya ada apa ini?.” Taehyung
bertanya sambil menatap Jungkook. Tak biasanya hal-hal aneh seperti ini
terjadi.
“Jangan tanyakan padaku. Tanyakan pada
Woohyun hyung saja.” Jungkook
menjawab enteng pertanyaan Taehyung. Tanpa memikirkan apa yang akan ia dapat
nanti.
“Tunggu dulu-” Taehyung tampak berpikir
sambil memperhatikan Jungkook. Bocah tengik itu tak tampak kesakitan, padahal
beberapa sekon lalu bocah itu masih mengaduh sambil memegangi punggungnya. “YAK! KAU MEMBOHONGIKU, EOH?! PUNGGUNGMU TAK SAKIT, KAN?. AWAS KAU BOCAH TENGIK!” Dan
terjadilah adegan kejar – mengejar dengan lemparan sandal dari Taehyung untuk
Jungkook. Sedangkan Woohyun bisa bernafas lega sekarang, karena tahu bahwa
Jungkook adalah sosok yang tepat untuk menemani Taehyung. Bukan orang yang dulu
Taehyung kecewakan dan akhirnya memiliki dendam pada Taehyung. Dan ia bisa
ikhlas untuk meninggalkan Taehyung dalam pengawasan Jungkook.
Hingga tak sengaja kaki Jungkook
menyandung karpet rumah sakit, akhirnya Taehyung bisa mendapatkan Jungkook dan
berhasil memukul bocah itu dengan sandal tidurnya.
“Hhh..
hhh.. hyung, sebenarnya kau mau bilang apa?.” Taehyung akhirnya melepaskan
Jungkook dan bertanya pada Woohyun. Keringat mengalir di pelipisnya pertanda
bahwa pemuda bersurai dark grey itu
memang sudah lelah mengejar Jungkook.
“Aniya,
aku hanya ingin menjengukmu saja. Yak,
Kim Taehyung. Memangnya kau pernah membuka almariku? Aku punya banyak baju
warna putih, Tae hanya saja aku malas memakainya. Dan-” Woohyung mengambil
nafas sebentar lalu mendengus. “Kau pikir aku tak boleh berpakaian rapi, eoh?!.” Woohyun mengelak semua isi
hatinya untuk berkata jujur pada Taehyung, karena ia tahu kalau saja ia memberi
tahu Taehyung, bocah itu pasti melarangnya pergi. Kenyataan yang pahit memang,
karena ia memang tak ingin melakukan perpisahan dengan Taehyung walau nyatanya
ia memang harus benar-benar berpisah dengan namja manis ber-rectangle smile itu.
Taehyung menggaruk belakang kepalanya
dan terlihat sedang berpikir. Ia merasa memang ada yang aneh dengan ‘Woohyun hyungnya’ itu, tapi ia tak
mengerti di mana letak keanehannya. “Tapi itu aneh.” Lirihnya.
“Kau itu lebih aneh, Tae. Sudahlah aku
mau pulang saja aku belum memberi makan Mokchul. Jaga dirimu, jangan lupa makan
dan minum obatmu, Tae. Kalau tidak aku akan mencampurkan kacang ke seluruh
makananmu. Arra?.”
“N-ne.”
Sebenarnya Taehyung sedikit tidak rela kalau Woohyun pergi secepat ini. Karena
memang pemuda yang ia panggil ‘kakak’
itu berada di sini belum genap lima menit. Namun, akhirnya yang bisa ia lakukan
hanyalah mengantar Woohyun ke depan pintu kamarnya bersama Jungkook. Yang tanpa
Taehyung ketahui, perpisahan ini adalah perpisahan dan pertemuan terakhirnya
dengan Woohyun. Mereka berdua lalu menatap kepergian Woohyun hingga punggungnya
menghilang di balik tembok rumah sakit.
“Mokchul itu siapa?.” Tanya Jungkook
polos. Mencoba menghilangkan kecanggungan di antara keduanya setelah kepergian
Woohyun.
“Mokchul itu kucing Woohyun hyung yang kami temukan bersama di dekat
sungai Han.” Taehyung menjawab tanpa menatap Jungkook. Jungkook memutar otaknya
mencoba mencari sesuatu yang bisa mencairkan suasana kini. Karena ia tahu pasti
Taehyung akan terus memikirkan Woohyun karena merasa ada yang aneh dengan
Woohyun.
“Kau tak suka kacang?. Memangnya
kenapa?.” Tanya Jungkook lagi. Ia menggigit bibir bawahnya, berharap apa yang
ia tanyakan bukanlah sesuatu yang sensitif bagi Taehyung yang akan merusak moodnya.
“Rasanya tak enak, bodoh. Selain itu
setelah aku memakan kacang pasti kulitku akan memerah dan suaraku menjadi
serak.” Taehyung masih saja menatap lurus pada lalu lalang orang di rumah
sakit. Sedangkan Jungkook tersenyum senang. Ternyata ini bukan sesuatu yang
perlu ia takutkan.
“Sepertinya patut dicoba.” Jungkook
mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu dengan evil smirknya….
HANYA
UNTUK MENGHILANGKAN KECANGGUNGAN
“Apa?.” Taehyung bertanya dengan polos
sambil menatap Jungkook. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum penuh arti.
“Memasukkan kacang ke makananmu.
Sepertinya sangat lucu saat wajahmu yang merah dengan suara yang serak.
HAHAHAHA.” Tawa Jungkook pecah.
Sedangkan Taehyung kini menatap Jungkook
lalu menghadiahi pemuda di sampingnya itu dengan sebuah tendangan keras di
pantat pemuda itu.
“YAK! TAE HYUNG! INI SAKIT!.” Pemuda itu menatap sengit pada yang lebih tua.
Ia tak sadar jika sebenarnya yang lebih tua jauh lebih marah padanya.
“KAU! KAU TIDAK BELAJAR SOPAN SANTUN, EOH?! BAGAIMANA BISA KAU MEMANGGIL ORANG
YANG JAUH LEBIH TUA DARIMU TANPA MENGGUNAKAN HYUNG?! KAU BODOH ATAU TAK TAHU SOPAN SANTUN?!” Amarahnya memuncak
seiring pergerakkanya untuk memojokkan Jungkook berlangsung. Sebenarnya
Taehyung tak benar-benar memojokkan Jungkook, hanya saja ia hanya ingin menguji
seberapa takut Jungkook padanya.
“A-aniyo.
Bukan itu maksudku.” Jungkook mencoba tersenyum pada ‘hyung’nya itu sambil mencari alasan yang tepat.
“LALU APA MAKSUDMU, HA!” Taehyung menarik kerah kemeja sekolah yang sudah Jungkook
gunakan selama dua hari.
“Begini. Bukankah aku tadi bilang untuk
memanggilmu Tae saja. Nah, jadi Tae hyung
itu bukan sepenuhnya namamu. Tae dari namamu dan hyung yang kumaksud adalah kakak laki-laki. Jadi aku akan
memanggilmu Tae hyung, okay?.” Jungkook mencoba menjelaskan
dengan tenang, padahal sebenarnya bocah itu sudah berkeringat dingin melihat
amukan Taehyung.
Taehyung tampak berpikir lalu kembali
menatap Jungkook. “Baiklah. Diterima, tapi kau harus membelikan aku sup sundae, bulgogi dan soda. Cepat sana!” Perintah yang lebih tua itu pun
dilaksanakan yang lebih muda dengan senang hati.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Geobuneun geobuhae
Nan wonrae neomuhae
Modu da ttara hae
Nan wonrae neomuhae
Modu da ttara hae
Senandung itu terdengar dari mulut seorang pemuda yang kini
tengah menyusuri lorong rumah sakit sambil membawa sejumlah makanan yang akan
ia dan ‘hyung’nya makan siang ini.
Namun sebuah suara menghentikan langkahnya. Dan membuatnya kini berdiri tepat
di depan televisi rumah sakit yang tengah menayangkan sebuah berita.
“Diketahui pesawat dengan
kode penerbangan V-2110 tersebut
mengalami turbulensi dan akhirnya menabrak sebuah bukit pada perjalanan
perdananya menuju Tokyo, Jepang pada pada pukul 10.30. Pesawat yang lepas
landas dari bandara Incheon pada pukul 10.00 tersebut diketahui membawa 129
penumpang dan 19 kru pesawat. Berikut adalah nama-nama korban yang telah
berhasil di identifikasi
Ayumi Ryuzuki Tamada 43
tahun, Kim Myungsoo 24 tahun, Shin Woohyun 25 tahun........”
DEG
Jantung pemuda tersebut serasa berhenti berdetak. Tanpa
pikir panjang pemuda itu segera berlari ke sebuah kamar yang ada di rumah sakit
tersebut, juga tanpa memikirkan belasan lalu lalang orang lewat yang sudah ia
tabrak tanpa sengaja.
“Jangan sampai ia tahu, Ya Tuhan. Aku mohon.” Untaian
permohonan pada Sang Pencipta itu tak henti-hentinya ia ucapkan. Hanya untuk
seseorang yang menunggunya di sana, di salah satu ranjang pesakitan.
“Aku mohon Tuhan.” Dan deretan permohonan terus mengalun
selama langkah kakinya yang membawanya menuju sebuah kamar dengan nuansa serba
putih.
KLEK
BRUK
Dan semua makanan yang ia pegang pun kini terjatuh seiring
dengan kedua matanya yang menatap tak percaya pada pemandangan di depannya.
Hatinya mencelos. Dan linangan air mata kembali mengalir tanpa seijin sang
pemilik.
“Hyung.” Lrihnya.
Namun tak ada sahutan dari orang yang dipanggilnya itu. Orang yang dipanggilnya
itu kini tengah berdiri mematung di depan layar televisi sambil memandang layar
televisi yang ada di kamarnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bagaikan membuka luka lama, bahkan kini hatinya jauh lebih
sakit dari sebelumnya. Seakan dunia mencoba mengujinya lagi saat ratusan
persoalan yang belum ia jawab telah menantinya. Luka hati yang memaksanya kembali mengingat
semua kenangan indah yang takkan terulang lagi barang sedikit pun. Luka yang
tak pernah sembuh berikut rasa sakit yang terus menjalar saat otaknya kembali
memutar semua memori indah yang lagi-lagi akan menghancurkannya saat ia
mengingatnya.
BRUK
Dan pemuda bersurai abu-abu tua itu terduduk lemas di
lantai. Dengan kedua tangan yang terkepal di samping tubuhnya, pemuda itu
mencoba mengatur nafas dan amarahnya yang tak stabil.
“Kenapa ia tak berpamitan padaku? Kenapa aku tak tahu kalau
ia akan pergi? Kenapa ia meninggalkanku?” Lirih Taehyung sambil mencoba menahan
amarahnya. Yang lebih muda pun mendekat dan memeluk yang lebih tua, mencoba
menenangkannya.
“Maafkan aku hyung.
Sebenarnya aku tahu semuanya. Tentang kepergian Woohyun hyung ke Jepang. Maaf hyung,
maafkan aku.” Dan kalimat sederhana tersebut berhasil membuat jantung Taehyung
seakan berhenti berdetak. Dan dengan kekuatan yang tersisa ia mendongak,
menatap wajah Jungkook yang kini telah banjir air mata.
“Hyung. Maafkan
aku.” Dan Jungkook semakin mempererat pelukannya. Namun Taehyung malah melepas
pelukan pemuda berzodiak virgo itu tanpa hati nurani teselip di dalamya.
“Kenapa? Kenapa? Kau ingin menghancurkanku juga, eoh?!.” Dan dengan sekuat tenaga
Taehyung mengguncang tubuh Jungkook untuk meminta penjelasan, tapi pemuda itu
malah terisak dan tak menjawab. Membuat Taehyung kian geram dan segera
meluapkan semua emosinya.
BRUK
Dan sebuah benturan yang Taehyung hasilkan pada kepala
Jungkook itu berhasil membuat darah mengalir di pelipis pemuda itu. Taehyung
baru saja mendorong pemuda bersurai gelap itu ke tembok hingga pelipisnya
membentur dinding bercat putih yang kini penuh dengan bercak darah itu. Tanpa
pikir panjang, Taehyung segera menghempaskan sebuah pukulan ke arah wajah
Jungkook hingga pemuda itu babak belur di tangan Taehyung.
BUGH
“INI UNTUKMU KARENA TELAH MEMBOHONGIKU!”
BUGH
“INI UNTUKMU KARENA MERUSAK KEPERCAYAANKU!”
BUGH
“INI UNTUKMU KARENA-” Suara Taehyung tercekat, ia seperti
kehilangan kekuatan. “Karena aku terlalu jauh mempercayaimu!” Dan Taehyung
akhirnya melepaskan cengkeramannya pada kerah pakaian Jungkook dan
menghempaskan tubuh yang sudah lemas itu ke lantai dengan amat keras.
“KENAPA?! KENAPA KAU BERBOHONG PADAKU? KAU SENGAJA MELAKUKAN
INI, KAN?. JAWAB AKU JEON JUNGKOOK!”
Taehyung berdiri dari posisinya dan berjalan menuju balkon kamarnya. Ia mulai
memanjat pagar rumah sakit itu. Berharap semua rasa sakitnya, baik di badan mau
pun di hati bisa segera lenyap saat ia meregang nyawa.
“HYUNG HENTIKAN!
MAAFKAN AKU! AKU AKAN MEMPERBAIKI SEMUANYA, HYUNG!”
Jungkook mencoba menahan Taehyung dengan memeluknya namun Taehyung kembali
mendorong pemuda itu sehingga pemuda itu kini meringis kesakitan dan darah
segar semakin banyak mengucur dari pelipisnya.
“MEMPERBAIKI KATAMU?!. ORANG BODOH MACAM APA KAU? MEMANGNYA
KAU BISA MENGHIDUPKAN WOOHYUN HYUNG
LAGI, EOH?!” Taehyung menghadap
Jungkook yang memohon padanya. Bahkan jika bisa dikatan lebih kasar lagi, hal
itu bukan lah memohon, tapi MENGEMIS.
“Hyung aku mohon!”
Jungkook menarik Taehyung sambil terisak. Taehyung menatap tajam mata Jungkook
yang sudah berair dengan mata elangnya.
“HENTIKAN! JANGAN BERPURA-PURA LAGI!” Dan dengan amarah
Taehyung yang memuncak, Taehyung mengayunkan tanganya ke wajah Jungkook yang
sudah penuh lebam dan berlumuran darah segar.
PLAK
Satu tamparan telak mengenai wajah Jungkook. Dan hal itu tak
membuat Jungkook gentar, ia masih terus ‘MENGEMIS’ pada Taehyung.
“KIM TAEHYUNG! APA YANG KAU LAKUKAN! TOLONG HENTIKAN!”
Dan suara baritone itu berhasil menghentikan
pertengkaran antara Taehyung dan Jungkook. Jungkook menoleh, mendapati Seunghyung
seongsae sudah datang bersama
beberapa perawat.
“PERGI KALIAN SEMUA!” Teriakan Taehyung menggema di seluruh
pejuru ruangan yang ada di lantai 16 rumah sakit ketiga terbesar di Korea
Selatan itu. Taehyung mulai melangkahkan kakinya menuju pagar rumah sakit
kembali.
Amarahnya sudah sampai puncak. Dan ia tak tahu apa yang
harus ia lakukan sekarang selain meregang nyawanya sendiri. Ia menatap ke
bawah, ke halaman rumah sakit Kanghan yang ramai. Ia memantapkan niatnya. Sudah
tak ada gunanya lagi hidup jika tak ada seorang pun yang dapat kau percayai.
Taehyung menelan salivanya yang
serasa sekeras batu karang.
Aku akan menyusulmu,
hyung
“ANDWAE!!!”
Baru satu langkah saat ia akan melompat, cepat-cepat tim
dokter menariknya dan menahannya.
“LEPASKAN!” Taehyung mencoba melawan namun ia kalah jumlah.
Seunghyun seongsae mulai mengeluarkan
sebuah suntikan berisi cairan bius. Melihat kejadian itu, Jungkook terdiam,
hatinya mencelos. Semua ini takkan terjadi kalau ada dirinya. Dirinya yang
hadir di kehidupan Taehyung yang sudah hancur. Dan ia menghancurkannya hingga
tak berbentuk dan remuk sekarang. Itu semua karenanya, Jeon Jeong Guk.
Dan suasana mencekam tersebut berakhir setelah Seunghyun seongsae menancapkan suntikkannya pada
pergelangan tangan Taehyung.
Taehyung jatuh melemas dan suaranya pun mulai terdengar
semakin lirih dan pilu.
“Aku membencimu.” Dan suara lirih dari mulut Taehyung itu
mengakhiri pemberontakkannya. Ia sudah tak sadarkan diri.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
“Aku
mohon, Jungkook. Jangan kecewakan dia, karena walaupun sangat tegar dan
terlihat tak terlalu peduli pada apa pun, sebenarnya ia sangat rapuh dan mudah
menyerah. Maka dari itu jaga dia untukku. Jaga adikku.”
Ingatan Jungkook terus berputar pada
kejadian saat Woohyun berpesan bahwa ia akan menitipkan Taehyung padanya. Ia
telah mengkhianati Taehyung dan Woohyun. Ia tak bisa menjaga Taehyung. Ia
justru melukainya. Membuat lukanya tertancap jauh lebih dalam lagi. Hingga
darah tak terlihat itu kembali mengalir, menganak pinak menjadi beberapa sungai
darah yang berbau kepedihan kembali menyeruak.
“Maka
dari itu jangan khianati dan tinggalkan aku, bocah”
“Aku
tak ingin Woohyun hyung bahkan kau, kalian yang aku percayai
meninggalkanku.”
Taehyung mempercayainya. Ya, Taehyung
mempecayainya. Tapi ia mengkhianatinya. Ia bodoh. Seharusnya ia tak di sini
agar Taehyung tak menderita. Taehyung menderita karenanya. Itu benar. Dan tak
perlu dipertanyakan lagi karena seharusnya adalah…
IA
TAK SEHARUSNYA DI SINI
“Ambil nyawaku Tuhan.” Suara pemuda itu
terdengar pilu. Air mata masih berlomba-lomba
keluar dari matanya. Menggambarkan beribu kepedihan yang tergambar
jelas di hatinya.
“Maafkan aku hyung” Ia lalu segera mengusap air mata sialan itu.
Ia bangkit, mencoba menghadapi kenyataan bahwa hidupnya memang menyedihkan.
Karena jika ia semakin mengulur waktu, luka itu akan semakin tertancap dalam di
hatinya….
MAUPUN
DI HATI TAEHYUNG
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Menyakitkan memang
Tapi aku telanjur
berjanji
Berjanji untuk
mempercayaimu
Namun kau selalu
merusaknya
Merusak janji yang
kubuat
Hentikan, ini
menyakitkan
Jangan buat hatiku
lebih sakit lagi
Hentikan, ini menyedihkan
Jangan buat aku
membencimu
Karena membencimu
adalah sebuah kesalahan bagiku
“Maafkan aku hyung. Jangan buat dirimu lebih menderita lagi. Bunuh aku hyung jika itu membuatmu merasa bahagia.
Maafkan aku hyung.” Pemuda itu terus
mengucapkan hal itu dalam tidurnya. Ia mengigau. Bahkan sesekali isakan dan air
mata kembali muncul dari mata indahnya. Menampakkan sebuah kesedihan mendalam
di sana, dan tak satu orang pun dapat mengelak jika pemuda itu kini memang
tengah tersiksa.
Sebuah tangan meraih pelipis pemuda itu.
Mengusap darah yang kini bahkan sudah mengering karena belum sempat pemuda itu
bersihkan.
“Bangunlah...” Suara husky baritone itu terdengar serak dan hampir tak terdengar.
“Eungh...”
Dan lenguhan kecil itu keluar dari mulut pemuda yang perlahan mulai sadar dari
tidurnya. Mencoba membiasakan maniknya dengan bias cahaya dari ruangan serba
putih itu.
“Maaf.” Hanya sebuah kata sederhana yang
keluar dari mulut Taehyung. Kata yang diucapkan dengan suara yang serak dan
bergetar. Kata yang sederhana namun sakral. Kata yang sederhana namun penuh
akan makna.
“Eh!?
Hyung?!” Jungkook terkejut dengan apa
yang Taehyung ucapkan. Karena memang bukan perkara mudah untuk seorang Kim
Taehyung yang tak bersalah itu meminta maaf.
“Maaf.” Taehyung menunduk dan menghela
nafas panjang. Karena amarahnya yang tadi telah memporak-porandakan akal
sehatnya, membuat Jungkook harus merasakan sakit luar biasa tanpa sebab yang
jelas.
“Jangan minta maaf padaku hyung. Aku yang harusnya minta maaf
padamu. Aku bersalah hyung. Maaf hyung.” Jungkook menelan salivanya. Tenggorokannya bagaikan
tertembus oleh sebuah belati yang membuatnya semakin pedih dan penuh dengan
darah. “Maafkan aku hyung. Aku tak
pantas menjadi ‘adik’mu.” Dan
Jungkook meraih tangan Taehyung dan mengenggamnya erat. Tangisnya pun pecah
seiring rentetan kalimat permintaan maafnya.
“Aniya.
Sekarang hanya kau satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Aku akan
memberikanmu satu kali lagi kesempatan. Jadi, aku mohon jangan sia-siakan rasa
percayaku padamu.” Taehyung yang melihat Jungkook semakin terisak bergerak
untuk menuntun Jungkook ke dalam pelukannya. “Maafkan aku juga, saeng.”
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Angin bertiup pelan menerbangkan sebutir
debu yang tak berharga. Membawa kenangan buruk yang takkan terlupakan kembali
menyusup kembali ke ingatan seorang anak manusia tanpa harapan. Kaki rapuhnya
melangkah di atas lantai marmer yang mewah namun dingin. Menghantarkan
tangannya untuk menyentuh pundak seorang pemuda yang tengah terlelap dan
meringkuk di atas sebuah sofa bermotif garis.
“Bangunlah...” Tak ada sahutan dari
pemuda itu. Dan dengan jahilnya Taehyung menjewer telinga Jungkook.
“Akh!”
Dan setelah perjuangan keras yang Taehyung lakukan kini membuahkan hasil.
Jungkook membuka matanya lebar sambil memasang ekspresi penuh tanya.
“Kenapa hyung?” Jungkook merajuk sambil memasang wajah memelas. Taehyung
lalu memberinya secarik kertas dengan beberapa susunan huruf.
“Itu alamat rumahku. Pulanglah kesana.
Kau bisa mandi atau beristirahat. Hanya berjarak tiga blok dari sini. Kuncinya
aku taruh di bawah pot anggrek.” Jungkook mengangguk mengerti lalu menatap
Taehyung.
“Ne,
hyung.” Dan Jungkook mulai mengenakan sepatunya dan memungut tasnya.
“Oh ya, kau bisa mengganti bajumu dengan
bajuku.” Jelas Taehyung sambil tersenyum. Membuat sebuah kelegaan kecil
menyusup di hati Jungkook.
“Ne,
hyung aku berangkat.” Pemuda bermarga Jeon itu lalu segera melesat pergi
dengan tidak etisnya. Sedangkan Taehyung hanya menatapnya sambil tersenyum,
mengabaikan rasa sakit yang sudah menjalar di dadanya sejak beberapa menit yang
lalu.
“Ughhhh..”
Taehyung menepuk-nepuk dadanya guna mengurangi rasa mualnya. Sesaat kemudian
darah segar mengalir dari hidung bangirnya.
SHIT
Taehyung segera melangkah menuju toilet
yang ada di kamar rawatnya. Rasa sakitnya memang telah mencapai klimaksnya. Ia
bahkan belum pernah merasakan ini sebelumnya. Perutnya serasa tercampur aduk,
kepalanya pening luar biasa, kakinya lemas, pandangannya buram, dan nafasnya
amat sangat berat. Dan dengan tergesa-gesa ia ia segera menghampiri washtafel dan mengusap darah sialan yang
tak kunjung berhenti mengalir itu.
“HUEK..hhh…
huek…huek…” Dengan usaha terakhirnya Taehyung mencoba melampiaskan rasa
sakitnya dengan memuntahkan semua darah yang dari tadi hendak keluar dari
mulutnya.
“Hhh…hhh…hhh…”
Taehyung menyeka lelehan air yang menetes dari mulut dan hidungnya. Ia pandang
cermin yang ada di depannya lamat-lamat. Ia amati wajahnya, pipinya yang pucat
mulai terlihat kurus, bibirnya pucat dan kering, matanya berair dan memerah.
Tragis memang. Seorang Kim Taehyung yang dilahirkan dari keluarga kaya raya
harus mengalami semua ini. Seorang Kim Taehyung yang tak tahu apa-apa harus
mengalami semua ini. Kim Taehyung yang lemah dan mudah hancur. Kim Taehyung
yang menyedihkan kontras dengan cita-citanya yang sungguh mulia di masa kecil.
“Ayah…”
Rengek Taehyung kecil sambil meraih sweater ayahnya dan sedikit mengguncangkannya.
Tatapan sang ayah yang sebelumnya terfokus pada langit malam Seoul yang
bertabur bintang kini beralih pada sang putra yang menatapnya penuh harap.
“Apa
sayang?” Sang ayah beralih mengusak rambut hitam legam bocah yang memakai kaos
biru bergambar singa tersebut.
“Aku
ingin menjadi dokter, ayah. Aku ingin membantu orang yang sakit agar bisa
sembuh kembali. Supaya orang yang sakit bisa tersenyum, makan enak,
jalan-jalan, dan bercanda bersama keluarganya lagi. Ayah mau kan mengabulkan cita-citaku?” Taehyung
menggenggam tangan besar ayahnya.
“Tentu
saja sayang”
“Nanti
jas dokterku tulisannya Kim Taehyung yang tampan ya, ayah?”
“Tentu
saja sayang”
“Atau
mungkin Kim Taehyung putra kebanggaan Kim Taejung. Pasti bagus ayah.”
“Tentu
saja sayang. Ayah berjanji”
“Mana janjimu ayah?” Taehyung
menggenggam sesuatu di balik pakaian rumah sakitnya. Sebuah liontin dengan
gambar keluarganya yang diambil sebulan sebelum tragedi nahas menimpanya dan
keluarganya. Sebuah tragedi yang Taehyung tak akan pernah lupa. Tragedi yang
membuat Taehyung kehilangan kepercayaan kepada semua orang, kecuali satu orang,
yaitu Jeon Jungkook.
Disaat anak-anak lain berlari-lari
sambil membawa hadiah natalnya, di hari laknat itu Taehyung justru bersujud di
depan kantor polisi sambil menangis. Hanya untuk memohon sebuah permintaan
terakhir dari ibunya.
“Ampuni aku Tuhan. Hiks..” Dan dengan tidak terhormatnya, untuk pertama kalinya
setelah lima tahun terakhir, seorang Kim Taehyung menangis. Menangisi sesuatu
yang bahkan harusnya sudah ia lupakan.
Ia tahu dengan pasti bahwa walau
pun ia menangisi satu persatu anggota
keluarganya hingga ia menangis darah pun, semua tak akan pernah kembali.
Kebahagiaan, keceriaan, dan kasih sayang, semuanya tak akan pernah kembali
padanya, pada pemuda lemah yang tak berguna yang mengaku baik-baik saja,
KIM
TAEHYUNG.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
“Apa kau yakin akan benar-benar tinggal
di sini?” Pertanyaan Taehyung membuat Jungkook menoleh setelah menutup pintu
rumah Taehyung. Pemuda itu memang sedikit bingung dengan pertanyaan Taehyung
yang tampak ragu-ragu untuk berucap.
“Tentu saja. Memangnya kenapa?. Toh kita bisa berangkat bersama setiap
hari. Aku juga bisa membantumu bersih-bersih atau memasak.” Pemuda itu lalu
segera menghempaskan tubuhnya di sofa sederhana yang ada di rumah Taehyung.
Sedangkan Taehyung segera duduk di samping Jungkook sambil melepas jaketnya.
“Bukan itu masalahnya. Tapi, kau tahu kan kalau aku tidak punya uang sebanyak
itu untuk membiayai dua orang sekaligus?” Taehyung menatap pemuda itu dengan
tatapan yang tak bisa diartikan. Ada sebuah kekhawatiran di sana. Di mata indah
Taehyung yang memang tak akan bisa berbohong.
Jungkook menghela nafas lalu menggeser
duduknya hingga kini menghadap Taehyung. “Hyung,
sebenarnya Woohyun hyung meninggalkan
tabungannya untuk kita berdua. Dan uang yang kugunakan untuk membayar biaya
rumah sakit itu juga uang Woohyun hyung.”
“Berapa banyak uangnya?” Selidik
Taehyung, ia hanya takut jika saja uang itu akan membebaninya suatu saat nanti.
“Ehm..
Kalau tidak salah sekitar dua ratus juta won.”
Jungkook menjawab enteng dan beralih meneguk air putih dari botol.
“Bagaimana bisa ia meninggalkan uang
sebanyak itu padahal umurku tinggal enam bulan?.” Gumam Taehyung pelan namun
masih bisa di dengar oleh telinga Jungkook dan otomatis membuat Jungkook
menyemburkan minumannya.
Jungkook memelototi Taehyung lalu
berhambur memeluknya dengan sangat erat seolah takut kehilangan. Kehilangan
orang yang sungguh berarti dalam hidupnya.
“HYUNG!.
Tolong. Jangan katakan hal seperti itu hiks…
kau pasti bisa hyung. Kau adalah
orang yang paling kuat yang kukenal selama ini. Kau tak boleh menyerah hanya
dengan penyakit seperti itu. Kau pasti bisa hidup lebih lama dari aku. Hyung aku mohon, jangan katakan hal
seperti itu lagi. Hiks..” Taehyung
membalas pelukan Jungkook. Jungkook terisak dalam pelukan hangat seorang Kim
Taehyung. Kehangatan Kim Taehyung yang hanya ia
seorang yang mengetahuinya.
“Mianhe.
Maafkan aku. Aku tak akan mengatakan hal itu lagi.” Sedangkan hati Taehyung
mencelos. Jungkook benar-benar menganggapnya sebagai ‘kakak’nya. Jungkook terlalu baik untuknya. Dan Taehyung tak bisa
membalas ketulusan dan kebaikan seorang Jeon Jungkook.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Matahari bersinar terang. Mengiringi
pagi dua orang anak manusia tanpa dosa yang mencoba melawan kerasnya dunia.
Mencoba melewati badai yang menghadang di depan mata. Mencoba melalui jalan
terjal yang melelahkan. Mencoba terus berjuang dan berharap agar permata indah
yang bermandikan cahaya berkilauan dapat mereka miliki. Mereka adalah Kim
Taehyung dan Jeon Jungkook. Yang kini tengah menyusuri trotoar menuju tempat
mereka menimba ilmu.
“Hyung
mereka siapa?” Tanya Jungkook polos sambil melirik dan melihat lima orang yang
berseragam sama dengan mereka.
“Ssssttt…
diamlah! Mereka adalah genk paling
psikopat di sekolah yang mengincarku. Jika kau melakukan kontak mata sekali
saja dengan mereka, pasti kau akan langsung” Taehyung berbisik dan di akhir
kalimatnya ia menggerakkan telunjuknya di depan leher dari kiri ke kanan
menirukan cara orang memenggal ayam. Ia lalu menggunakan hoodie di jaket hitamnya lalu beranjak pergi.
“Ah
ne.” Dan sayangnya Jungkook telah melakukan kontak mata dengan salah satu
dari mereka dengan tag name…
KIM
SEOK JIN
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
“Hyung
kau mau makan apa?” Pertanyaan pemuda bersurai hitam itu berhasil membuyarkan
lamunan pemuda berkulit pucat di sampingnya. Dan dengan lemah pemuda itu
berkata,
“Terserah kau saja. Yang penting jangan
ada unsur kacangnya.”
Dan dengan berakhirnya kalimat Taehyung,
Jungkook mulai melangkah menuju pantry.
Namun langkahnya terhenti saat seorang pemuda berambut coklat tua menarik
tangannya dan memaksanya pergi.
“HYUNG!”
Terlambat!. Taehyung lebih dulu pergi ke alam mimpinya.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Di sebuah ruangan yang Jungkook tak tahu
namanya, kelima siswa berandalan yang ia lihat tadi pagi sedang berdiri dengan
angkuhnya di depannya.
“Jeon Jeong Guk. Nama yang bagus.” Salah
satu dari mereka mengusap tag name
yang bertengger rapi di jas sekolah Jungkook. Pemuda bersurai coklat gelap itu
lalu beralih mengusak rambut Jungkook yang tertunduk takut. Jungkook membaca tag name pemuda itu, Kim Seokjin. Dan
Jungkook segera menundukkan kepalanya kembali setelah tatapan matanya
bertabrakan dengan pemuda di depannya itu.
“Apa hubunganmu dengan Taehyung, Jeong
Guk-ssi?” Kini giliran pemuda dengan tag name Jung Hoseok yang menanyai
Jungkook yang masih saja menunduk.
Jungkook hanya diam dan tak menjawab.
Batinnya justru berperang untuk mempertanyakan apa yang siswa-siswa berandalan
ini inginkan darinya.
“JAWAB AKU BODOH!” Hoseok naik pitam dan…
PLAK
…menampar pipi putih Jungkook.
“Aku hanya teman sebangkunya yang dekat
dengannya.” Jungkook menegakkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Hoseok dengan
jujur. Memang benar kan kalau ia dan
Taehyung adalah teman sebangku yang dekat?. Walau artian dekat yang menurut
Jungkook memiliki arti tersendiri.
“Sudah kuduga. Sudahlah hyung kita
tinggalkan saja dia.” Pemuda bermarga Park itu menyilangkan tangannya di depan
dada sambil menatap Jungkook bosan.
“Park Jimin, kau pikir kita
bermain-main, eoh?.” Gertak Kim
Namjoon, yang membuat Jimin bungkam seketika. Namjoon memang tak main-main
kalau memang sedang marah.
“Maaf hyung.” Jimin menunduk seketika.
“Lalu kenapa kau tadi pagi berangat
bersama Taehyung?. Kau juga menemani Taehyung saat ia di rumah sakit, kan?. Kau-” Seokjin melirik Yoongi yang
sedang memainkan pisau lipat di tangan putihnya.
“Ba- bagaimana kau bisa tahu?.” Tanya
Jungkook ketakukan sambil menelan ludahnya yang serasa seperti pisau yang
menancap tepat di kerongkongannya.
TRAK
“KAU PIKIR AKU BODOH, HA?!.” Seokjin meluapkan amarahnya
dengan membentak dan menancapkan pisau lipat yang sebelumnya bertengger manis
di tangan Yoongi menjadi berada di samping telinga Jungkook hingga menimbulkan
suara deritan yang cukup keras karena ujung pisau lipat itu bertemu dengan
tembok usang di belakangnya.
Nyaris
saja kepalamu ditusuk dengan pisau, Jeon Jungkook
“Aku tahu kau marah, Seokjin-ah. Tapi jangan mencoba untuk
membunuhnya sekarang.” Yoongi merebut pisau yang ada di genggaman Seokjin
sambil tersenyum remeh.
“DIAM KAU MIN YOONGI!.” Manik Seokjin
menatap manik Yoongi tajam, penuh dengan isyarat dan intimidasi.
“KUPERINGATKAN KAU JEON JEONG GUK!. JIKA
KAU MASIH BERANI MENDEKATINYA LAGI, KAU AKAN BERADA DALAM POSISI YANG SANGAT
SULIT!.” Seokjin berucap sambil menarik kerah kemeja Jungkook.
“Sudah, kan?. Aku pergi.” Jungkook melangkah keluar lalu membanting pintu
dengan keras setelah melepaskan cengkraman tangan Seokjin.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Di tempat lain…
Taehyung sudah menunggu Jungkook cukup
lama di kantin. Sejak bel sekolah itu meraung-raung pikiran Taehyung memang tak
tenang. Bukan karena jam pelajaran Park seongsae yang menyenangkan tapi pelit
nilai itu, tapi karena Taehyung teringat sesuatu. Ia takut jika Jungkook
tiba-tiba terlibat dengan ‘dia’
Taehyung
tengah duduk sendirian di taman. Woohyun hyung membohonginya kali ini. Woohyun bilang ia
akan mengajaknya makan siang setelah bermain di taman. Tapi harapan itu sirna
setelah ia mendapat telepon dari Woohyun kalau pemuda berusia 25 tahun itu tak
bisa menemuinya karena ada pekerjaan mendadak dari bosnya.
Taehyung
menghela nafas panjang dan tiba-tiba saja pandangannya menghitam bukan karena
ia pingsan karena nyatanya ia masih bisa merasakan semilir angin mengenai
rambutnya. Bukan juga karena tiba-tiba saja terjadi pemadaman listrik karena
ini masih siang. Hei! Lagi pula Taehyung tak sebodoh itu untuk merasakan tangan
hangat siapa yang kini menutup kedua kelopak matanya secara tiba-tiba, kan?.
“Hyungie!” Orang yang dipanggil ‘Hyungie’ itu mendesah berat karena tertangkap
basah dan duduk di samping Taehyung sebelumnya ia melepaskan kedua tangannya
dari kelopak mata Taehyung.
“Yah, ketahuan lagi. Uri Taehyung sangat peka ya ternyata?.” ‘Hyungie’ menatap Taehyung hangat sambil menyerahkan sebuah es krim pada
Taehyung.
“Memangnya
aku sebodoh itu untuk tak bisa mengenali tangan lebarmu yang hangat itu, eoh?.” Taehyung mulai menjilati es krimnya
sambil menggoyang-goyangkan kakinya, persis bocah.
“Terserahmu
sajalah. Ngomong-ngomong kapan Woohyun hyung datang? Aku sangat ingin bertemu dengannya,
Taehyung-ah. Sepertinya Woohyun hyung
itu orang yang sangat baik.” Pemuda itu lalu mengikuti langkah Taehyung,
menikmati es krimnya.
Taehyung
menghela nafas berat lalu menghentikan aktivitas memakan es krimnya. “Woohyun hyung tak bisa datang hyungie. Ia bilang ada pekerjaan mendadak dari
bosnya. Maaf ya hyung.” Taehyung
menunduk. Tak lama kemudian Taehyung merasakan sebuah tangan besar mengusak
rambutnya.
“Tak
apa, lagi pula masih ada kesempatan lainnya kan?.” Taehyung mengangguk lalu
kembali menjilati es krimnya kali ini sambil terkekeh geli, persis bocah.
Beberapa
hari setelah pertemuannya dengan Taehyung di taman sambil memakan es krim,
pemuda tampan itu dikejutkan dengan kehadiran Taehyung di kediaman keluarganya
yang mewah pagi-pagi sekali.
“Ada
apa Taehyung-ah?.” Pemuda itu bertanya pada Taehyung yang tampak gugup. Jelas
saja ia bingung. Pertama, bagaimana Taehyung bisa tahu alamatnya, kedua,
Taehyung nampak gugup kali ini, lalu ini masih terlalu pagi untuk berkunjung.
Bukankah benar saja jika ia bertanya sedemikian rupa?.
“Aku-aku
ingin keluar dari group hyung. Karena aku sudah muak dengan ka-kalian.”
Taehyung menatapnya dengan tatapan yang tajam yang sulit diartikan. Membuat
pemuda di depannya membelalakkan matanya tak percaya dengan kalimat yang baru
saja diucapkan Taehyung.
“MWO?!” Pemuda di hadapan Taehyung itu jelas
saja kaget. Ia memang tak tuli untuk menanyakan kembali pernyataan Taehyung.
Namun yang membuatnya bertanya kembali adalah…..
KARENA PERNYATAAN
TAEHYUNG YANG MELANGGAR JANJI
“AKU
MUAK DENGAN KALIAN TERLEBIH DENGANMU, HYUNG!. KALIAN ITU PENGECUT! BULLSHIT! STUPID! AKU MUAK! MAKA DARI ITU AKU AKAN MENGAKHIRI HUBUNGANKU DENGAN GROUP, DENGAN KALIAN. TERUTAMA DENGANMU, HYUNG! KALIAN SEMUA SAMPAH!” Taehyung menatap
marah pemuda di hadapannya dengan nafas tak teratur.
“KIM
TAEHYUNG BICARA APA KAU?!.” Dan dengan satu ayunan tangan…
PLAK
…..pemuda
tampan itu berhasil menampar pipi Taehyung dengan amat keras, hingga
terciptalah tetesan darah yang mengalir di sudut bibir Taehyung.
“Maaf
hyung. Tapi aku harus pergi. Selamat tinggal, ‘hyungie’” Taehyung mengusap bekas tamparan dari
‘hyung’nya itu. Dan dengan langkah tergesa, pemuda bersurai coklat tua itu
pergi begitu saja…
BLAM
PUK
Tehyung terlonjak saat sosok yang ia
tunggu sejak tiga puluh menit lalu itu hadir dan mengganggu acara
mengingat-ingatnya.
“Lama sekali, darimana saja kau?.” Itu
pertanyaan Taehyung yang membuat Jungkook merinding seketika. Seseorang tolong
bantu Jungkook untuk berbohong sekarang.
“Perutku sakit, hyung.” Alasan yang tak terlalu buruk. Dan Taehyung hanya
mengangguk mengerti.
“Ayo kita ke kelas. Bel sialan itu sudah
meraung-raung sejak tadi.” Taehyung lalu merangkul ‘adik’nya itu dan berjalan beriringan menuju kelas.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
Mencekam, sebuah kata yang begitu sesuai
untuk menggambarkan malam ini. Angin malam berhembus dengan liar membuat hawa
dingin itu berterbangan bak kupu-kupu yang bebas mengepakkan sayap kemana pun
ia inginkan. Derasnya tangisan sang langit yang membuat siapapun terhempas
dalam imajinasi liar membuat malam ini terasa bak bermimipi buruk.
Suara langkah yang diseret itu
menandakan masih ada kehidupan dalam rumah
satu lantai itu. Langkah itu berhenti di suatu titik sejenak lalu
berlanjut lagi ke titik lain yang cukup jauh.
“HYUNG!”
Teriak Jungkook membabi buta. Ia segera meraih benda yang ada di genggaman
Taehyung dengan secepat kilat, lalu membantingnya secara asal dalam hitungan
kurang dari satu detik.
“Jangan lakukan ini, hyung. Tolong, semuanya bisa semakin
memburuk jika kau melakukannya.” Jungkook mencoba menatap manik bening Taehyung
di tengah kegelapan yang terjadi dan manik itu hanya memancarkan sebuah tatapan
kosong. Tatapan kosong yang luar biasa menyakitkan untuk Jungkook.
“BICARA APA KAU ANAK KECIL!. BERIKAN BIR
ITU LAGI!.” Taehyung yang sudah mabuk tak dapat membendung lagi amarahnya. Dan
dengan keberaniannya Jungkook memukul tengkuk Taehyung hingga Taehyung tak
sadarkan diri.
“Tidak, kau harus tidur sekarang! Maaf hyung.” Jungkook menyeret tubuh Taehyung
yang lunglai ke dalam kamar dengan dua ranjang itu.
“Selamat tidur, hyung.” Jungkook mengusap surai Taehyung setelah melihat ‘kakak’nya itu tertidur pulas.
“Aku akan membuang semua bir yang ada di
kulkas besok.” Dan Jungkook akhirnya mengikuti Taehyung untuk pergi ke alam
mimpi.
------------------------------BETTER
WITHOUT YOU CHAPTER 1---------------------------------------
“Berhenti
mendekati Taehyung lagi, bocah!.” Seokjin menghempaskan tubuh kurus Jungkook ke
lantai membuat pemuda dengan surai hitam itu meringis kesakitan.
“HABISI
DIA, YOONGI, HOSEOK!.” Seokjin mendudukkan dirinya di sebuah kursi tua yang
kusam, bersiap untuk melihat eksekusi mati dua orang di depannya.
DOOOR
Satu
timah panas itu berhasil bersarang di dada kiri Taehyung. Jungkook melemas
seketika melihatnya. Ingin ia berteriak untuk meminta tolong tapi suaranya
seperti tercekat tepat di tenggorokan.
DOOOR
Satu
lagi di paha kanan Taehyung. Air mata Jungkook kian deras dan ia hanya bisa
menangis pasrah. Sedangkan Seokjin tertawa terbahak-bahak di sana bersama
Namjoon dan Jimin.
DOOOR
Dan
yang terakhir, berhasil menembus tempurung kepala Taehyung. Jungkook memejamkan
matanya sejenak. Ini terlalu menyakitkan untuknya.
Tubuh
Taehyung tersungkur lemah. Dan pemuda bersurai abu-abu itu tersenyum dengan
bibirnya yang bergetar dan penuh darah.
“Selamat
tinggal dunia.”
“ANDWAE!”
“Sekarang
giliranmu, bocah tengik.” Jungkook dapat melihat seringaian iblis di wajah
putih Yoongi dan senyuman kemenangan di wajah Seokjin dan Hoseok.
“Jangan.”
Jungkook tak dapat menahan isak tangisnya. Dan hanya keprasahanlah yang ia
miliki.
DOOOR
“ANDWAE!.”
To Be Continue
Hehehe…..^^ *ketawa evil ama BTS
Gimana readers tolong komentar, kritik,
saran, masukan, pulsa, dan hadiah *eh!
Saya author sekaligus writer baru. Jadi
tolong dukungannya ya????? Saya akan menceritakan sepenggal dari biodata saya
kalau memeng ada yang pengen. hehehe
Buat yang bingung siapa sebenarnya Kim
Se Hwa, di chapter-chapter depan bakalan sedikit demi sedikit dibahas kok…
Soal kenapa Seokjin my oppa itu dendam
banget ama suami ane Taehyung juga bakal dibahas pelan-pelan…
Soal masa lalu Taehyung yang lebih rinci
ntar juga bakal ada flashback2 buat jelasin gimana masa lalu Taehyung yang lebih
jelas….
Nah untuk yang bingung siapakah
‘HYUNGIE’ sebenarnya…. Mohon ditahan dulu karena itu akan saya beritahu di chapter
akhir….
HEHEHE *Nyengir bareng Chanyeol
#ditabokpakebibirnyaBaekhyun
Sekian…. Terima kasih Jazakumullah….
KAMSAHAMNIDA
WASSALAMUALAIKUM WR WB….
OUR DICTIONARY
·
Ramyun : mie ramen khas korea
·
Hyung : panggilan adik laki-laki kepada
kakak laki-laki
·
Tag name : tanda pengenal
·
Won : mata uang negara korea
·
Kimchi : makanan khas korea yang
biasanya dibuat dari sayur yang dibaluri bumbu pedas lalu di fermentasi
·
Chap chai : makanan chinese yang berisi sayur-mayur
yang ditumis dengan berbagai bumbu
·
Noona : panggilan adik
laki-laki kepada kakak perempuan
·
Busan adalah kota yang
ada di pinggiran Korea Selatan, kota ini berbatasan langsung dengan laut. Kota
ini juga dikenal dengan kota baseballnya Korea.
·
Saliva : liur
·
Husky baritone: Husky
(suara serak) baritone (suara berat), suara serak yang berat
·
Sundae : Sup jerohan sapi
·
Bulgogi : daging panggang khas
korea
·
Turbulensi : keadaan tak stabil pada pesawat yang
menyebabkan pesawat bergoyang, kadang hingga menyebabkan pesawat jatuh dan
kehilangan kontak
·
Hoodie : kupluk pada jaket sebagai penutup
kepala

0 komentar:
Posting Komentar